Selasa, 25 Oktober 2011

Kerajaan Negara Dipa

Negara Dipa Berdiri 1387-1495 Didahului oleh Kerajaan Kuripan Digantikan oleh Kerajaan Negara Daha Ibu kota dan Bandar Perdagangan Candi Laras (ibukota I) Candi Agung (ibukota II) Bandar Muara Rampiau
(Bandar Perdagangan) Bahasa Banjar Klasik Agama Syiwa-Buddha Kaharingan Pemerintahan -Raja pertama
-Raja terakhir Monarki Ampu Djatmaka sejak ±1387[1] Putri Kalungsu sampai 1495.[2] Sejarah -Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi 1387
1387-1495 1495 Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan yang berada di pedalaman Kalimantan
Selatan. Kerajaan ini adalah
pendahulu Kerajaan Negara Daha.
Kerajaan Negara Daha terbentuk
karena perpindahan ibukota kerajaan
dari Amuntai (ibukota Negara-Dipa di hulu) ke Muhara Hulak (di hilir).
Sejak masa pemerintahan Lambung Mangkurat wilayahnya terbentang dari Tanjung Silat sampai Tanjung
Puting.
Kerajaan Negara Dipa memiliki
daerah-daerah bawahan yang disebut
Sakai, yang masing-masing dipimpin
oleh seorang Mantri Sakai. Sebuah pemerintahan Sakai kira-kira sama
dengan pemerintahan lalawangan
(distrik) pada masa Kesultanan
Banjar. Salah satu negeri bawahan
Kuripan adalah Negara Dipa.
Menurut Hikayat Banjar, Negara Dipa merupakan sebuah negeri yang
didirikan Ampu Jatmika yang berasal dari Keling (Coromandel).[3] Menurut Veerbek (1889:10) Keling,
propinsi Majapahit di barat daya Kediri.Menurut Paul Michel Munos dalam Kerajaan-kerajaan Awal
Kepulauan Indonesia dan Senanjung
Malaysia, hal 401 dan 435, Empu
Jamatka (maksudnya Ampu Jatmika)
mendirikan pada tahun 1387, dia berasal dari Majapahit. Diduga Ampu
Jatmika menjabat sebagai Sakai di
Negara Dipa (situs Candi Laras) (Margasari). Ampu Jatmika bukanlah keturunan bangsawan dan juga bukan
keturunan raja-raja Kuripan, tetapi
kemudian dia berhasil menggantikan
kedudukan raja Kuripan sebagai
penguasa Kerajaan Kuripan yang
wilayahnya lebih luas tersebut, tetapi walau demikian Ampu Jatmika tidak
menyebut dirinya sebagai raja, tetapi
hanya sebagai Penjabat Raja
(pemangku). Penggantinya Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) setelah bertapa di sungai berhasil
memperoleh Putri Junjung Buih yang
kemudian dijadikan Raja Putri di
Negara Dipa. Raja Putri ini sengaja
dipersiapkan sebagai jodoh bagi
seorang Pangeran yang sengaja dijemput dari Majapahit yaitu Raden Putra yang kelak bergelar Pangeran
Suryanata I. Keturunan Lambung
Mangkurat dan keturunan mereka
berdua inilah yang kelak sebagai raja-
raja di Negara Dipa. Menurut Tutur Candi, Kerajaan
Kahuripan adalah kerajaan yang lebih dulu berdiri sebelum Kerajaan Negara Dipa. Karena raja Kerajaan Kahuripan menyayangi Empu Jatmika sebagai
anaknya sendiri maka setelah dia tua
dan mangkat kemudian seluruh
wilayah kerajaannya (Kahuripan)
dinamakan sebagai Kerajaan Negara
Dipa, yaitu nama daerah yang didiami oleh Empu Jatmika. (Fudiat
Suryadikara, Geografi Dialek Bahasa
Banjar Hulu, Depdikbud, 1984) Kerajaan Negara Dipa semula
beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat hilir sungai Bahan tepatnya pada suatu anak sungai
Bahan, kemudian ibukotanya pindah
ke hulu sungai Bahan yaitu Candi
Agung (Amuntai), kemudian Ampu Jatmika menggantikan kedudukan
Raja Kuripan (negeri yang lebih tua)
yang mangkat tanpa memiliki
keturunan, sehingga nama Kerajaan
Kuripan berubah menjadi Kerajaan
Negara Dipa. Ibukota waktu itu berada di Candi Agung yang terletak di sekitar hulu sungai Bahan (=
sungai Negara) yang bercabang
menjadi sungai Tabalong dan sungai
Balangan dan sekitar sungai
Pamintangan (sungai kecil anak
sungai Negara). Kerajaan ini dikenal sebagai
penghasil intan pada zamannya. Raja Negara Dipa 1. Periode Raja-raja Kuripan yang
tidak diketahui nama penguasa dan
masa pemerintahannya. Kerajaan
Kuripan ini disebutkan dalam
Hikayat Banjar Resensi II. 2. Ampu Jatmaka gelar Maharaja di
Candi, saudagar kaya dari Keling pendiri Negara Dipa tahun 1387 dengan mendirikan negeri Candi
Laras di hilir kemudian mendirikan
(atau menaklukan?) negeri Candi
Agung di hulu di sebalik negeri
Kuripan. Ampu Jatmaka sebagai
penerus ayah angkatnya raja tua Kerajaan Kuripan [= raja negeri
lama yang berdiri sebelumnya]
yang tidak memiliki keturunan,
tetapi Ampu Jatmaka mengganggap
dirinya hanya sebagai Penjabat
Raja. Ketiga negeri/distrik ini dan ditambah negeri Batung Batulis dan
Baparada (= Balangan) yang
muncul di dalam Hikayat Banjar
Resensi II teks Cense, maka inilah
wilayah awal Negara Dipa.
Kemudian Empu Jatmika memerintahkan Tumenggung
Tatahjiwa memperluas wilayah
dengan menaklukan batang
Tabalong, batang Balangan dan
batang Pitap. Ia jua memerintahkan
Arya Megatsari menaklukan batang Alai, batang Labuan Amas dan
batang Amandit. Widuga wilayah
inilah yang menjadi ibukota baru
Tanjungpura di negara bagian
Tanjungnagara (Kalimantan-
Filipina). 3. Lambung Mangkurat [= logat Banjar untuk Lembu Mangkurat]
bergelar Ratu Kuripan, putera
Ampu Jatmika (sebagai Penjabat
Raja). Ia berhasil memperluas
wilayah kerajaan dari Tanjung
Silat/Selatn sampai Tanjung Puting yaitu wilayah dari sungai
Barito sampai sungai Seruyan. 4. Raden Galuh Ciptasari alias Putri
Ratna Janggala Kadiri gelar
anumerta Putri Junjung Buih [=
perwujudan putri buih/putri bunga
air menurut mitos Melayu] yaitu
puteri angkat Lambung Mangkurat, diduga Ratu I ini berasal dari
Majapahit yang disebut Bhre
Tanjungpura. Menurut Pararaton,
Bhre Tanjungpura Manggalawardhani Dyah Suragharini yang berkuasa 1429-1464 adalah puteri Bhre Tumapel II 1389-1427 [= abangnya Suhita] dengan istrinya Bhre Lasem V.
Bhre Tanjungpura [= Bhre
Kalimantan] dan Bhre Pajang III
Sureswari 1429-1450 [= adik bungsu Manggalawardhani]
keduanya menjadi istri Bhre
Paguhan III 1400-1440 [= ayahnya Sripura] tetapi perkawinan
ini tidak memiliki keturunan
(menurut Pararaton). Diduga Bhre
Tanjungpura menikah lagi dengan
Bhre Pamotan I Rajasawardhana
Dyah Wijayakumara. Menurut Prasasti Trailokyapuri
Manggalawardhani adalah Bhre
Daha VI 1464-1474 yakni ibu Ranawijaya (janda Sang Sinagara). 5. Rahadyan Putra alias Raden Aria
Gegombak Janggala Rajasa gelar
anumerta Maharaja Suryanata [=
perwujudan raja dewa matahari],
suami Putri Junjung Buih yang
dilamar/didatangkan dari Majapahit dengan persembahan 10 biji intan. Raja ini berhasil menaklukan raja
Sambas, raja Sukadana/
Tanjungpura, orang-orang besar/
penguasa Batang Lawai (= sungai
Kapuas), orang besar/penguasa
Kotawaringin, orang besar Pasir, raja Kutai, orang besar Berau dan
raja Karasikan. Menurut Hikayat
Banjar Versi II, pasangan ini
memperoleh tiga putera yakni Pangeran Suryawangsa, Pangeran Suryaganggawangsa dan Pangeran Aria Dewangsa [adi-vamsa = pengasas dinasti].
Ketiga putera ini memerintah di
daerah yang berlainan (a) Undan
Besar dan Undan Kuning, (b)
Undan Kulon dan Undan Kecil (c) Candi Laras, Candi Agung, Batung Batulis dan Baparada [= Batu Piring?] serta Kuripan. Setelah beberapa lama memerintah [pada
tahun 1464?] Putri Junjung Buih
dan Maharaja Suryanata
mengatakan hendak pulang ke
tempat asalnya dan pemerintahan
dilanjutkan oleh putera-puteranya. Nama Rajasa yang digunakan raja ini kemungkinan kependekan dari Rajasawardhana alias Dyah Wijayakumara alias Sang Sinagara, yaitu putera sulung Bhre Tumapel
III Dyah Kertawijaya 1429-1447. Dyah Wijayakumara [= Bhre
Kahuripan VI] memiliki istri
bernama Manggalawardhani Bhre Tanjungpura . Dari perkawinan itu lahir empat
orang anak, yaitu Samarawijaya [=
Bhre Kahuripan VII],
Wijayakarana, [= Bhre Mataram
V], Wijayakusuma (= Bhre
Pamotan II), dan Ranawijaya (= Bhre Kertabhumi= Kartapura?=
Tanjungpura?). 6. Aria Dewangsa putera bungsu Putri
Junjung Buih dengan Maharaja
Suryanata (Hikayat Banjar versi
II), menikahi Putri Mandusari
alias Putri Huripan [yang ibunya
meninggal ketika melahirkannya] gelar Putri Kabu Waringin [karena
minum air susu kerbau putih yang
diikat di pohon beringin] yaitu
puteri dari Lambung Mangkurat (=
Ratu Kuripan) dengan Dayang
Diparaja. 7. Raden Sekar Sungsang, cucu Putri Junjung Buih dan juga cucu
Lambung Mangkurat adalah putera
dari pasangan Pangeran Aria
Dewangsa dengan Putri Kabu
Waringin menurut Hikayat Banjar
versi II, tetapi menurut Hikayat Banjar versi I adalah cicit Putri
Junjung Buih dan juga cicit
Lambung Mangkurat. Menurut
versi II, Raden Sekar Sungsang [=
Panji Agung Rama Nata] pernah
merantau ke Jawa [dan diduga sudah memeluk Islam] dan di Jawa ia mengawini wanita setempat dan
memperoleh dua putera bernama
Raden Panji Dekar dan Raden Panji
Sekar [yang kemudian bergelar
Sunan Serabut karena menikahi
puteri Raja Giri]. Sunan Serabut dari Giri inilah yang menuntut
upeti kepada Putri Ratna Sari gelar
Ratu Lamak (puteri dari Raden
Sekar Sungsang dengan Putri
Ratna Minasih yang
menggantikannya sebagai raja). Ratu Lamak kemudian digantikan
adiknya Ratu Anom yang pernah
ditawan ke Jawa karena gagal
membayar upeti. Menurut Hikayat Banjar versi I, ibu
Raden Sekar Sungsang yaitu Putri
Kalungsu alias Putri Kabu Waringin,
permaisuri Maharaja Carang Lalean
(= Aria Dewangga?) sempat menjadi
wali raja ketika Raden Sakar Sungsang masih berumur enam
tahun sewaktu Maharaja Carang
Lalean (= Raden Aria Dewangsa?)
mengatakan bahwa ia hendak pulang
ke tempat asalnya (dan jika raja ini
putera Manggalawardhani maka kemungkinan kepulangannya ke
tempat asal/Majapahit untuk
membantu kakaknya Samarawijaya
berperang melawan pamannya Raja
Majapahit?). Maharaja Carang Lalean
kemudian melantik Lambung Mangkurat sebagai pemangku. Pada masa Maharaja Sari
Kaburungan alias Raden Sekar Sungsang, putera dari Putri Kabu Waringin alias Putri Kalungsu, untuk
menghindari bala bencana ibukota
kerajaan dipindahkan dari Candi
Agung (Amuntai) karena dianggap
sudah kehilangan tuahnya, pusat
pemerintahan dipindah ke arah hilir pada percabangan anak sungai Bahan
yaitu Muara Hulak yang kemudian
diganti menjadi Negara Daha
(sekarang kecamatan Daha Selatan)
sehingga kerajaan disebut dengan
nama yang baru sesuai letak ibukotanya ketika dipindahkan yaitu
Kerajaan Negara Daha. Nama sungai
Bahan pun berganti menjadi sungai
Negara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar