Selasa, 25 Oktober 2011

Kerajaan Nagara Daha

Negara Daha Berdiri 1478-1526 Didahului oleh Kerajaan Kuripan Digantikan oleh Kesultanan Banjar Ibu kota dan Bandar Perdagangan Nagara, Hulu Sungai Selatan
Bandar Muara Bahan, Barito Kuala
(Bandar Perdagangan) Bahasa Banjar Klasik Agama Syiwa-Buddha Kaharingan
Islam (minoritas) Pemerintahan -Raja pertama
-Raja terakhir Monarki
Maharaja Sari Kaburangan sejak ±1478 Maharaja Tumenggung sampai tahun 1526. Sejarah -Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi 1478
1478-1526 1526
Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha)yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan sejaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Kerajaan Negara Dipa merupakan pendahulu Kesultanan
Banjar. Pusat pemerintahan/ibukota
kerajaan ini berada di Muhara Hulak/
kota Negara (sekarang kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan), sedangkan bandar perdagangan
dipindahkan dari pelabuhan lama
Muara Rampiau (sekarang desa Marampiau) ke pelabuhan baru pada Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala).[1] Kerajaan Negara Daha merupakan
kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang saat itu berkedudukan di Kuripan/Candi Agung, (sekarang kota Amuntai). Pemindahan ibukota dari Kuripan adalah untuk
menghindari bala bencana karena kota
itu dianggap sudah kehilangan
tuahnya. Pusat pemerintahan
dipindah ke arah hilir sungai Negara
(sungai Bahan) menyebabkan nama kerajaan juga berubah sehingga
disebut dengan nama yang baru
sesuai letak ibukotanya yang ketiga
ketika dipindahkan yaitu Kerajaan
Negara Daha. Raja Negara Daha Raja-raja Negara Daha:[2] 1. Raden Sakar Sungsang/Raden Sari Kaburungan/Ki Mas Lalana
bergelar Maharaja Sari Kaburungan [1] atau Panji Agung Rama Nata[3] putera dari Putri Kalungsu/Putri
Kabu Waringin, ratu terakhir Negara Dipa 2. Raden Sukarama bergelar Maharaja
Sukarama, kakek dari Sultan Suriansyah (Sultan Banjar I)[1][4] 3. Raden Paksa bergelar Pangeran Mangkubumi[1] 4. Raden Panjang bergelar Pangeran Tumenggung[1] Wilayah pengaruh kerajaan ini
meliputi propinsi Kalimantan Selatan
dan Kalimantan Tengah, sebelah
barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Islam datang ke daerah Kalimantan
Selatan dari Giri di masa Raden Sekar Sungsang yang pernah
merantau ke pulau Jawa dan disana
telah memiliki anak bernama Raden
Panji Sekar yang menikahi putri dari Sunan Giri kemudian bergelar Sunan Serabut.[3] Tetapi Islam baru menjadi agama negara pada tahun 1526 di masa kekuasaan Sultan Suryanullah[1] atau Sultan Suriansyah.[3] Aksara Arab-Melayu telah digunakan sebelum berdirinya
Kesultanan Banjar. Karena kemelut di Kuripan/Negara Daha, beberapa tumenggung melarikan diri ke negeri Paser di
perbatasan Kerajaan Kutai
Kartanegara dan kemudian
mendirikan Kerajaan Sadurangas di daerah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar