Sabtu, 29 Oktober 2011

lamut


Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan
nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang
atau cianjuran. Bedanya, wayang
atau cianjuran dimainkan dengan
seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan
terbang, alat tabuh untuk seni hadrah. Mereka yang baru melihat seni lamut
selalu mengira kesenian ini mendapat
pengaruh dari Timur Tengah. Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain,
seperti Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun.[1] Pelaksanaan Lamut akan dilakukan
pada malam hari mulai pukul 22.00
sampai pukul 04.00 atau menjelang
subuh tiba. Pembawa cerita dalam
Lamut ini diberi julukan Palamutan.
Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang
diletakkan dipangkuannya duduk
bersandar di tawing halat (dinding
tengah), dikelilingi oleh pendengarnya
yang terdiri dari tua-muda laki-
perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.[2] Sejarah Lamut berasal dari negeri China, bahasanya pun semula menggunakan bahasa Tionghoa kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Banjar. Datangnya lamut di tanah Banjar
kira-kira pada tahun 1816 yang di
bawa oleh para pedagang Tionghoa ke Banjar hingga ke Amuntai, konon orang-orang dulu sangat
menyukainya karena lamut membawa
cerita yang sangat banyak dan
merupakan cerita pengalaman di
banyak negeri yang di sampaikan secara bertutur[1]. Ceritanya, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal
dagang Bintang Tse Cay. Dari
pedagang itulah ia pertama kali
mendengar alunan syair China.
Dalam pertemuan enam bulan
kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut. Sejak itulah Raden Ngabe
mempelajari dan melantunkannya,
tanpa iringan terbang. Lamut mulai
berkembang setelah warga minta
dimainkan setiap kali panen padi
berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, Lamut
mendapat iringan terbang. Seni bertutur itu disebut lamut
karasmin karena menjadi hiburan
pada perkawinan, hari besar
keagamaan, maupun acara nasional.
Lamut juga digunakan dalam proses
batatamba (penyembuhan penyakit). Orang yang punya hajat dan terkabul
biasanya juga mengundang
palamutan. Kata "lamut", konon
berasal dari bahasa Arab, laamauta (ﺕﻭﻤﻻ ) yang artinya tidak mati[1]. Macam-macam Lamut Lamut Batatamba Lamut Batatamba (Lamut
pengobatan) berfungsi sebagai
pengobatan, misalnya untuk anak
yang sakit panas yang tidak sembuh-
sembuh, atau ada orang yang sulit
melahirkan dan lain-lain. pertunjukan lamut batatamba haus
disertai dengan sejumlah
persyaratan, yaitu piduduk yang
terdiri dari perangkat piduduk
(sesaji), kemenyan atau perapin
(dupa), beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, dan sepasang benang-jarum. Setelah itu dilakukan tepung tawar dengan mahundang-
hundang (mengundang) roh halus,
membacakan doa selamat, dan
memandikan air yang telah didoakan kepada si sakit[1]. Lamut Baramian Lamut Baramian (Lamut Hiburan)
biasa dihadirkan untuk mengisi acara
perkawinan, syukuran, khitanan dan
acara hiburan lainnya. Bila pada wayang ada tokoh punakawan yang terdiri dari Semar,
Gareng, Petruk, dan Bagong, pada
Lamut tokohnya adalah Paman Lamut
serta tiga anaknya; Anglung,
Angsina, dan Labai Buranta.
Sedangkan ceritanya sudah berpakem seperti wayang purwa, tentang
kerajaan yang dipimpin Prabu Awang
Selenong. Meski tokoh dan pakem cerita lamut
tertentu, pengembangan cerita tetap
dimungkinkan sesuai kemampuan si
pelamutan dalam meramu. Ramuan
cerita itu bisa disadur dari kisah
Panji, Andi-andi, atau Tutur Candi, bahkan cerita 1.001 malam. Kisah
juga bisa menjadi dramatis dengan
lakon yang gagah berani atau
romantis. Masyarakat Banjar paling
mengharapkan kisah percintaan
antara Junjung Masari dan Kasan
Mandi. Para penonton hanyut ketika
mendengar kisah percintaan kedua
tokoh itu dalam syair pantun bahasa Banjar. Lamut juga digemari warga
keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan
saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin[1]. Fungsi Lamut Lamut berfungsi : 1. Sebagai media dakwah agama Islam dan muatan pesan–pesan pemerintah atau pesan dari
pengundang Lamut. 2. Sebagai hiburan 3. Manyampir, yaitu tradisi bagi
keturunan palamutan. 4. Hajat seperti untuk tolak bala atau
doa selamat pada acara kelahiran
anak, khitanan atau sunatan,
mendapat rejeki. Menurut
kepercayaan, kalau menyampir dan
hajat ini tidak dilaksanakan maka akan membuat mamingit yakni
menyebabkan sakit bagi yang
bersangkutan. 5. Sebagai pendidikan terutama
mengenai tata krama kehidupan
masyarakat Banjar. Biasanya
petatah petitih berupa nasihat, petuah atau bimbingan moral.[3] Terancam punah Seni lamut bisa dikatakan bernasib
malang karena kini di ambang punah.
Satu per satu pelamutan meninggal
dunia, sementara proses pewarisan
dan regenerasi kesenian itu mandek.
Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda
tak lagi tertarik memainkannya. Kini,
tak ada organisasi atau lembaga yang
peduli kepada lamut, apalagi
membina munculnya pelamutan baru.

madihin



Madihin (berasal dari kata madah dalam bahasa Arab yang berarti "nasihat", tapi bisa juga berarti "pujian") adalah
sebuah genre puisi dari suku Banjar. Puisi rakyat anonim bergenre
Madihin ini cuma ada di kalangan
etnis Banjar di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi
Madihin dengan sendirinya tidak
dapat dirumuskan dengan cara
mengadopsinya dari khasanah di luar
folklor Banjar. Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan
rumusan sebagai berikut : puisi
rakyat anonim bertipe hiburan yang
dilisankan atau dituliskan dalam
bahasa Banjar dengan bentuk fisik
dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara
khusus dalam khasanah folklor
Banjar di Kalsel. Bentuk fisik Masih menurut Ganie (2006),
Madihin merupakan pengembangan
lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap
barisnya dibentuk dengan jumlah kata
minimal 4 buah. Jumlah baris dalam
satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk
kepada pola sajak akhir vertikal a/a/
a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua
baris dalam setiap baitnya berstatus
isi (tidak ada yang berstatus
sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya
saling berkaitan secara tematis. Madihin merupakan genre/jenis puisi
rakyat anonim berbahasa Banjar yang
bertipe hiburan. Madihin dituturkan di
depan publik dengan cara dihapalkan
(tidak boleh membaca teks) oleh 1
orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar
Pamadihinan). Anggraini Antemas
(dalam Majalah Warnasari Jakarta,
1981) memperkirakan tradisi
penuturan Madihin (bahasa Banjar :
Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526. Status Sosial dan Sistim Mata Pencaharian
Pamadihinan Madihin dituturkan sebagai hiburan
rakyat untuk memeriahkan malam
hiburan rakyat (bahasa Banjar
Bakarasmin) yang digelar dalam
rangka memperintai hari-hari besar
kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan,
menghibur tamu agung, menyambut
kelahiran anak, pasar malam,
penyuluhan, perkawinan, pesta adat,
pesta panen, saprah amal, upacara
tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar). Orang yang menekuni profesi sebagai
seniman penutur Madihin disebut
Pamadihinan. Pamadihinan
merupakan seniman penghibur rakyat
yang bekerja mencari nafkah secara
mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria
profesional yang harus dipenuhi oleh
seorang Pamadihinan, yakni : (1)
terampil dalam hal mengolah kata
sesuai dengan tuntutan struktur
bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2)
terampil dalam hal mengolah tema
dan amanat (bentuk mental) Madihin
yang dituturkannya, (3) terampil
dalam hal olah vokal ketika
menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4)
terampil dalam hal mengolah lagu
ketika menuturkan Madihin, (5)
terampil dalam hal mengolah musik
penggiring penuturan Madihin
(menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur
keserasian penampilan ketika
menuturkan Madihin di depan publik. Tradisi Bamadihinan masih tetap
lestari hingga sekarang ini. Selain
dipertunjukkan secara langsung di
hadapan publik, Madihin juga
disiarkan melalui stasiun radio
swasta yang ada di berbagai kota besar di Kalsel. Hampir semua
stasiun radio swasta menyiarkan
Madihin satu kali dalam seminggu,
bahkan ada yang setiap hari.
Situasinya menjadi semakin
bertambah semarak saja karena dalam satu tahun diselenggarakan
beberapa kali lomba Madihin di tingkat
kota, kabupaten, dan provinsi dengan
hadiah uang bernilai jutaan rupiah. Tidak hanya di Kalsel, Madihin juga
menjadi sarana hiburan alternatif
yang banyak diminati orang,
terutama sekali di pusat-pusat
pemukiman etnis Banjar di luar
daerah atau bahkan di luar negeri. Namanya juga tetap Madihin. Rupa-
rupanya, orang Banjar yang pergi
merantau ke luar daerah atau ke luar
negeri tidak hanya membawa serta
keterampilannya dalam bercocok
tanam, bertukang, berniaga, berdakwah, bersilat lidah
(berdiplomasi), berkuntaw (seni bela
diri), bergulat, berloncat indah,
berenang, main catur, dan
bernegoisasi (menjadi calo atau
makelar), tetapi juga membawa serta keterampilannya bamadihinan (baca
berkesenian). Para Pamadihinan yang menekuni
pekerjaan ini secara profesional dapat
hidup mapan. Permintaan untuk
tampil di depan publik relatif tinggi
frekwensinya dan honor yang mereka
terima dari para penanggap cukup besar, yakni antara 500 ribu sampai
1 juta rupiah. Beberapa orang di
antaranya bahkan mendapat rezeki
nomplok yang cukup besar karena ada
sejumlah perusahaan kaset, VCD, dan
DVD di kota Banjarmasin yang tertarik untuk menerbitkan rekaman
Madihin mereka. Hasil penjualan
kaset, VCD, dan DVD tersebut
ternyata sangatlah besar. Pada zaman dahulu kala, ketika etnis
Banjar di Kalsel masih belum begitu
akrab dengan sistem ekonomi uang,
imbalan jasa bagi seorang
Pamadihinan diberikan dalam bentuk
natura (bahasa Banjar : Pinduduk). Pinduduk terdiri dari sebilah jarum
dan segumpal benang, selain itu juga
berupa barang-barang hasil
pertanian, perkebunan, perikanan,
dan peternakan. Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel Madihin tidak hanya disukai oleh para
peminat domestik di daerah Kalsel
saja, tetapi juga oleh para peminat
yang tinggal di berbagai kota besar di
tanah air kita. Salah seorang di
antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu
terkesan dengan pertunjukan Madihin
humor yang dituturkan oleh
pasangan Pamadihinan dari kota
Banjarmasin Jon Tralala dan
Hendra. Saking terkesannya, beliau ketika itu berkenan memberikan
hadiah berupa ongkos naik haji plus
(ONH Plus) kepada Jon Tralala.
Selain Jhon Tralala dan Hendra, di
daerah Kalsel banyak sekali bermukim
Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling senior di
kota Martapura), Rasyidi dan Rohana
(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan Mastura
Kandangan), Khair dan Nurmah
(Kandangan), Utuh Syahiban
Banjarmasin), Syahrani
(Banjarmasin), dan Sudirman (Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya Melayu. Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin Pada zaman dahulu kala,
Pamadihinan termasuk profesi yang
lekat dengan dunia mistik, karena
para pengemban profesinya harus
melengkapi dirinya dengan tunjangan
kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan
oleh seorang tokoh gaib yang tidak
kasat mata yang mereka sapa dengan
sebutan hormat Datu Madihin. Pulung difungsikan sebagai kekuatan
supranatural yang dapat memperkuat
atau mempertajam kemampuan
kreatif seorang Pamadihinan. Berkat
tunjangan Pulung inilah seorang
Pamadihinan akan dapat mengembangkan bakat alam dan
kemampuan intelektualitas
kesenimanannya hingga ke tingkat
yang paling kreatif (mumpuni).
Faktor Pulung inilah yang membuat
tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai
Pamadihinan, karena Pulung hanya
diberikan oleh Datu Madihin kepada
para Pamadihinan yang secara
genetika masih mempunyai hubungan
darah dengannya (hubungan nepotisme). Datu Madihin yang menjadi sumber
asal-usul Pulung diyakini sebagai
seorang tokoh mistis yang
bersemayam di Alam Banjuran
Purwa Sari, alam pantheon yang
tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat dalam konsep
kosmologi tradisonal etnis Banjar di
Kalsel. Datu Madihin diyakini sebagai
orang pertama yang secara
geneologis menjadi cikal bakal
keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Konon, Pulung harus diperbarui
setiap tahun sekali, jika tidak, tuah
magisnya akan hilang tak berbekas.
Proses pembaruan Pulung dilakukan
dalam sebuah ritus adat yang disebut Aruh Madihin. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul
Awal atau Zulhijah. Menurut Saleh
dkk (1978:131), Datu Madihin
diundang dengan cara membakar
dupa dan memberinya sajen berupa
nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat
baboreh. Jika Datu Madihin berkenan
memenuhi undangan, maka
Pamadihinan yang mengundangnya
akan kesurupan selama beberapa
saat. Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan
menuturkan syair-syair Madihin
yang diajarkan secara gaib oleh Datu
Madihin yang menyurupinya ketika
itu. Sebaliknya, jika Pamadihinan
yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang
dibakarnya habis semua, maka hal itu
merupakan pertanda mandatnya
sebagai Pamadihinan telah dicabut
oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan
bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur
secara sukarela dari panggung
pertunjukan Madihin

Jumat, 28 Oktober 2011

masak habang



Banjarmasin tidak hanya dikenal
karena memiliki ikon tersohor seperti
Jembatan Barito atau Pasar
Terapung saja, tapi juga beragam
kuliner khas yang sayang jika tidak
dicoba. Salah satunya adalah Masak Habang. Masak Habang adalah
kuliner Banjar yang menurut
kacamata saya paling banyak
dikonsumsi masyarakat. Karena di
setiap sudut kota Banjarmasin, anda
bisa dengan mudah menemukan warung, restoran atau kedai yang
menghidangkan masakan satu ini.
Isinya pun beragam. Mulai daging
sapi, ayam, telu ayam, telur itik atau
bebek hingga jerohan ayam. Awalnya saya tidak begitu suka
masakan ini karena rasanya yang
manis. Tapi setelah beberapa kali
mencoba, warnanya yang merah
merona, serta aromanya yang khas,
selalu menggoda saya untuk mencicipinya lagi dan lagi.Di Kandangan Kalsel, Ayam
Masak Habang ini makanan harian,
ayam bisa diganti Haruan/Gabus atau aneka ikan atau udang atau itik/
bebek kalau suka. Kalau Makan
Ketupat Kandangan pasti temannya
Ayam Masak Habang ini. Bisa juga
hanya dengan Sop atau Soto
Banjar...duh yummi deh, dengan Gangan Kuning Sukun.
Bahan: 1 ekor ayam, potong 12/14/16,
Mexican Californian Dried Chillies
besar 10 buah atau 1 pon
bawang merah 6 butir/bombay 1/4
bawang putih 2 siung
jahe seiris gula merah 1/2
garam
terasi sedikit (bila suka)
cengkeh 2 biji (bila suka)
asam jawa sedikit (pakai yang ekstrak
supaya lebih mudah) kayu manis 2 cm( bila suka)
minyak sayur 1 cup
Petunjuk
1. Bersihkan ayam, lumuri dengan
jeruk nipis dan cuci bersih lagi hingga
hilang bau amisnya, tiriskan
2. Cabe kering rendam semalaman,
atau jalan pintasnya rebus selama
1/2 jam, buang biji 3. Haluskan semua bumbu kecuali
cengkeh dan kayu manis
4. Panaskan wajan, panaskan
minyak, tumis bumbu sampai harum
dan matang, masukkan ayam dan
masak sampai matang, dengan dijaga dan dibalik-balik terus jangan sampai
bumbu gosong.
Hidangkan dengan nasi panas dan
sayur sop, bening atau Gangan
Kuning.

soto banjar


Soto Banjar adalah soto khas suku Banjar, Kalimantan Selatan dengan bahan utama ayam dan beraroma harum rempah-rempah seperti kayu manis, biji pala, dan cengkeh. Soto berisi daging ayam yang sudah
disuwir-suwir, dengan tambahan perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat.[1] Seperti halnya soto ayam, bumbu Soto Banjar berupa bawang merah, bawang putih dan merica, tapi tidak memakai kunyit. Bumbu ditumis lebih dulu dengan sedikit minyak goreng atau minyak samin hingga harum sebelum dimasukkan ke dalam kuah
rebusan ayam. Rempah-rempah
nantinya diangkat agar tidak ikut
masuk ke dalam mangkuk sewaktu
dihidangkan.
Bahan:
· 1 ekor ayam, potong jadi 4 bagian
· 2 liter air
· 250 cc susu cair
· ¼ butir pala
· 10 cm kayu manis
· 2 butir cengkeh
· garam Bumbu yang dihaluskan: · 8 butir bawang merah
· 5 siung bawang putih
· 1 sdt merica bulat
· minyak goreng Cara Membuat:
· Di dalam panci masukkan 2 liter
air, ayam dan garam secukupnya.
Rebus sampai ayam matang dan
empuk.
· Angkat, lepaskan daging ayam dari
tulangnya. Potong ayam berbentuk dadu atau disuwir-suwir. Sisihkan.
Sisakan air perebus ayam kurang
lebih 1¾ liter.
· Di dalam wajan, masukkan sedikit
minyak goreng. Panaskan dengan
api sedang.
· Tumis bumbu yang sudah
dihaluskan dalam wajan sampai
harum.
· Masukkan tumis bumbu ke dalam
kuah ayam. Masukkan juga kayu
manis, pala dan cengkeh, didihkan. Tambahkan susu cair, aduk rata
supaya tidak pecah. Catatan: Soto Banjar biasa dihidangkan
dengan beberapa bahan pelengkap:
· 12 buah perkedel kentang
· 100 gr soun direndam air panas
sampai lunak, tiriskan
· 6 butir telur rebus, potong-potong · 4 sdm bawang merah goreng
· 2 batang daun bawang, iris tipis
· 1 batang daun seledri, iris halus
· kecap manis secukupnya
· jeruk nipis
· sambal soto banjar

katupat kandangan


Makanan ini dikenal
dengan nama Ketupat Kandangan.
Kandangan adalah sebuah kota di
Kalimantan Selatan. Kalau tidak salah, ini adalah daerah asal Hamzah
Haz, mantan Wakil Presiden RI. He
he, sudah lupa ‘kan bahwa kita pernah
punya wakil presiden bernama
Hamzah Haz yang kini tidak lagi
terdengar namanya. Untungnya, dengan masakan ketupatnya,
Kandangan tetap kondang di seluruh
Nusantara. Ketupat adalah makanan yang sangat
umum dan dapat dijumpai di
berbagai wilayah Nusantara dengan
ciri khas masing-masing. Dari
Sabang sampai Merauke, kita dapat
menemukan berbagai hidangan ketupat dengan ciri-ciri kedaerahan
yang khas. Dalam catatan saya,
beberapa sajian ketupat yang paling
saya sukai adalah: ketupat sayur di
Banda Aceh; ketupat dengan sayur
pakis di Sicincin, Sumatra Barat; ketupat sayur dengan lauk pindang
bandeng di Kebayoran Lama, Jakarta;
lontong kari di Bandung; lontong
capgomeh di Semarang; ketupat
dengan lauk rujak di Madura; tipat
cantok di Bali; dan ketupat kandangan ini. Ketupat kandangan disajikan hanya
dengan guyuran kuah santan mirip
opor, berwarna kekuningan, ditaburi
bawang merah goreng. Cara
makannya sangat khas. Sekalipun
berkuah, ketupat ini justru harus disantap tanpa sendok, melainkan
dengan tangan. Ketupatnya hanya
dibelah dua ketika disajikan, lalu
“dihancurkan” dengan tangan. Beras
Banjarmasin memang tidak pulen
seperti di Jawa. Ditanak sebagai nasi pun hasilnya seperti nasi pera yang
tidak lengket satu sama lain. Ketika
dimasak menjadi ketupat pun
nasinya masih mudah tercerai-berai
lagi. Setelah nasi ketupat itu “bubar
jalan”, masing-masing akan menyerap kuah santan, sehingga
mudah pula disuap dengan tangan.
Sungguh, cara makan yang sangat
unik. Pendamping yang cocok untuk ketupat
kandangan ini adalah ikan haruan
goreng, atau ikan haruan masak
habang (seperti bumbu bali atau
bumbu balado). Ikan haruan mirip
ikan gabus yang di Jawa sering disebut sebagai iwak kutuk, tetapi
durinya tidak terlalu banyak. Ikan
haruan Banjarmasin lebih mirip ikan
gabus dari Danau Sentani di Papua
Barat yang juga sedikit durinya, dan
dagingnya lebih gurih. Di sebuah warung ketupat kandangan
di Banjarmasin, sajian
pendampingnya termasuk sate telur
ikan haruan, sate isi perut ikan
haruan, dan telur rebus masak
habang. Dalam kunjungan terakhir ke
Banjarmasin, saya menemukan satu
lagi sajian lontong yang membuat
saya langsung “jatuh cinta” dan
terpaksa “bercerai” dengan ketupat
kandangan. Sajian yang menggetarkan ini dikenal
warga Banjarmasin dengan nama
Lontong Orari. Dulu, rumah yang
sekarang dipakai untuk berjualan
makanan ini adalah markasnya para
aktivis radio amatir yang tergabung dalam ORARI (Organisasi Radio
Amatir Republik Indonesia). Seperti
kita ketahui, para breakers ini selain
gemar cuap-cuap di udara juga
sering melakukan “copy darat” agar
dapat saling bertemu muka. Kebetulan, tidak jauh dari tempat
mereka berkumpul itu ada seorang
penjual lontong yang sungguh enak. Lama-kelamaan, penjual lontong
itupun “diakuisisi” dan kini lontong
lezat itu “go public” – tidak lagi hanya
dapat dinikmati para breakers.
Rumah besar itu selalu ramai oleh
para pelanggan setianya. Lontongnya berbentuk segitiga lebar
dan pipih. Satu porsi full berisi dua
lontong. Porsi ini benar-benar kelas
berat. Saya saja tidak mampu
menghabiskan satu lontong yang
berukuran besar itu. Seperti ketupat kandangan,
lontongnya juga diguyur opor nangka
muda. Warna kuahnya tidak sekuning
ketupat kandangan, karena bumbunya
memang tidak memakai kunyit. Cara
makannya mirip dengan ketupat kandangan, yaitu memakai tangan –
tidak memakai sendok. Lauknya disajikan dalam piring
terpisah – sebutir telur rebus dan
ikan haruan goreng masak habang.
Kuah lauk berwarna merah ini setelah
bercampur dengan kuah putih lontong
akan menghasilkan warna yang mengagumkan. Warna kuahnya
langsung membuat saya teringat
lontong capgomeh “Warung Air
Mancur” di Semarang. Lontong Orari
ini termasuk kategori mak nyuss!
Sungguh memukau. Satu catatan penting tentang kuliner
Banjarmasin yang harus saya
kemukakan di sini adalah
kecenderungan citarasa manis yang
berlebihan. Bahkan sayur asem yang
seharusnya berasa asam, tetap harus tampil manis di Banjarmasin. Orang
Banjar memang suka masakan
manis. Sepedas apapun sambal yang
ditampilkan, selalu ada tone manis
yang muncul.

apam barabai



Sudah sejak lama Apam barabai yang selama ini dikenal sebagai salah satu ciri kue khas kota barabai. Maka tidak salah kalau sekarang kota barabai memiliki pasar khusus menjual penganan khas ini. Tapatnya dipasar apam samping terminal karamat barabai. Sejak tahun 2002 Pemerintah daerah kabupaten hulu sungai tengah membuat pasar ini dengan membangun kios-kios jualan dan merelokasi para pedagang apam yang selama ini berjualan di dalam pasar baru barabai. Ke tempat yang sekarang menjadi kawasan pasar apam barabai. Keberadaan pasar ini sangat bermanfaat bagi para pembeli terutama dari luar daerah apalagi yang menggunakan angkutan umum. Karena semua angkutan umum yang melewati kota barabai diharuskan masuk ke terminal ini. Kue ini sering dicari pembeli terutama dari luar kota yang melewati kota barabai sebagai panganan yang akan dimakan selama berada dalam perjalanan, juga sebagai oleh-oleh dari barabai. Karena rasanya yang khas dan daya tahan kue ini yang lumayan lama hingga 24 jam. Jadi tidak heran banyak pembeli yang membeli kue ini sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar daerah hingga luar propinsi seperti samarinda Kalimantan timur atau daerah muara teweh di Kalimantan tengah. Menurut mastura, salah satu pedagang pasar apam menyatakan bahwa keberadaan pasar ini sangat bermanfaat bagi para
pembeli dari luar kota, bahkan ada pembeli dari grogot danbalik papan sengaja singgah di pasar ini hanya untuk membeli kue apam sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Banjarmasin. Karena daya tahan kue ini hingga dua hari apabila dipanaskan. Penghasilan berjualan apam ini pun sangat lumayan hingga 500 ribu rupiah perharinya. Apalagi bila musim ramai hingga jutaan rupiah per harinya. Lanjut beliau. Keberadaan pasar ini juga menjadi salah satu pendapatan asli daerah yang memberikan kontribusi yang cukup besar. Dengan mematok pungutan sebesar 500 rupiah per meter persegi untuk satu hari. Menjadikan pasar ini sebagai salah satu pendapatan asli daerah kabupaten Hulu Sungai Tengah.

amparan tatak



Amparan tatak, sebuah nama kue
basah khas masyarakat Banjar,
Kalimantan Selatan, terkenal sejak
tempo dulu dan tetap eksis hingga
kini, bahkan tergolong populer di
bulan Ramadhan. Namun, mungkin orang, termasuk
masyarakat Banjar sendiri, lupa
nama lain dari kue yang rasanya
manis tersebut. Itu setidaknya dari
pengakuan sejumlah generasi muda
masyarakat Banjar. Mereka menyatakan tak mengenal
nama lain dari kue amparan tatak
karena di pasaran kue basah khas
daerah Banjar, orang-orang hanya
menyebutnya amparan tatak.
Padahal, nama lain dari amparan tatak adalah nangka susun. Nama ini hampir tak terdengar lagi,
kecuali bagi mereka yang ingat akan
sebuah lagu daerah Banjar. Di antara
bait-bait lagu daerah Banjar
dimaksud, "Nangka susun
susumapan, balapis amparan tatak...." Jadi, amparan tatak hanya
bagian dari kue basah khas Banjar
yang sekarang populer. Menurut orang-orang Banjar tempo
dulu, yang namanya amparan tatak
murni terbuat dari pisang masak
bercampur tepung beras dengan
tambahan garam secukupnya,
kemudian disumap/dikukus. Bila mau lebih enak, dalam
pengolahan ditambah santan kelapa
serta gula pasir secukupnya, tapi
tetap tanpa lapisan atas yang
umumnya berwarna putih, seperti
sekarang yang disebut nama kue amparan tatak. Amparan tatak tradisional, pisang
masak yang digunakan tidak mesti
jenis pisang talas yang sekarang
banyak digunakan, tapi bisa pisang
emas, awa (batu), serta jenis pisang
lainnya dan terkadang dari nangka. Penggunaan pisang talas dan pisang
emas serta nangka dalam membuat
amparan tatak agar kue tersebut lebih
menarik konsumen, apalagi kalau
untuk dijualbelikan. Amparan tatak yang nama lainnya
nangka susun itu bukan cuma ada di
Kalimantan Selatan, melainkan juga
provinsi tetangga, seperti Kalimantan
Tengah d,an Kalimantan Timur,
yang dipopulerkan oleh urang-urang Banjar sejak masa lalu.Kue ini khas Kalimantan,biasa ditemui pada bulan- bulan Ramadhan, dan
menjadisalah satu kue loyang favorit selain Katrisolo... yummy… Rasanya legit, kadang orang Kalimantan juga menaburi nangka ke dalamnya. Orang
Jawa bilang kue ini berasa seperti Naga Sari, namun saya tak tahu pasti
Naga Sari seperti apa. Ada dua metode dalam membuatnya, ada yang ditanak, dan ada yang direbus. Sesuai kondisi saya sebagai anak kos,
maka yang saya buat pun yang lebih simple, yaitu direbus. Kue ini pun saya demo kan dalam salah satu program KKN. Berikut resepnya :
Bahan-Bahan :
Santan 1200 ml Tepung terigu 200 gram Telur 1 butir Gula pasir 300 gram Garam ¼ sdt Agar-agar bubuk putih 2 bungkus Pisang Raja 3 buah (dibelah dua, dipotong-potong) Cara Membuat : Adonan 1
1. Ambil 200 ml santan dari 1200 ml, campurkan kedalam tepung terigu.
2. Masukkan telur, aduk sampai merata. Adonan 2 1. Rebus sisa santan 1000 ml tadi, masukkan gula dan garam, tambahkan agar-agar, aduk-aduk dan didihkan.
2. Masukkan adonan 1, aduk rata sampai mendidih.
3. Masukkan potongan pisang sambil terus di aduk dan biarkan mendidih.
4. Angkat, tuangkan adonan kedalam loyang, dinginkan.
5. Selamat menikmati.
Tips :
1. Masak dengan api sedang dan terus diaduk.
2. Pisang dapat diganti dengan nangka, sesuai selera.

Kamis, 27 Oktober 2011

Bingka


Kue bingka kentang merupakan salah satu kue khas dari Banjarmasin, Kalimantan selatan. Di Banjarmasin kue bingka ini sudah menjadi jajanan favorit warga Banjar. Apalagi pada saat bulan Ramadhan, makanan ini menjadi makanan favorit untuk berbuka puasa. Sayangnya meskipun sangat banyak dijual pada saat bulan Ramadhan, jajanan yang satu ini sulit ditemukan pada saat-saat bukan bulan Ramadhan, Namun anda tetap bisa menikmatinya tanpa harus menunggu bulan Ramadhan yakni dengan memesan pada penjual yang biasa menjual makanan ini, karena biasanya ada diantara mereka yang menerima pesanan, atau anda bisa mencoba alternatif lain yakni dengan membuatnya sendiri. Kue bingka ini mirip kue lumpur, namun versinya lebih besar. Cita rasa yang khas membuat kue ini menjadi pilihan utama untuk menu berbuka puasa atau makanan selingan seusai salat tarawih. Kue ini terasa empuk, memiliki rasa legit dan manis. Serta menebarkan aroma sangat wangi dan membangkitkan hasrat untuk mencicipinya. Sebenarnya bukan hanya kentang yang bisa dijadikan bahan campuran kue bingka. Nangka dan tape juga bisa. Namun, citra rasanya tak bisa mengalahkan kentang. Dan biasanya bingka kentang lah yang paling banyak diminati daripada rasa yang lainnya, meskipun rasa-rasa yang lain tidak kalah sedap dengan bingka kentang (tergantung pada selera masing-masing). Karena dalam proses pembuatannya menggunakan santan yang kental maka bingka kentang bisa menimbulkan rasa eneg apabila mengkonsumsinya terlalu banyak. Jadi nikmati saja secukupnya, menikmati kue bingka kentang sedikit demi sedikit akan menambah nikmatnya cita rasa kue bingka yang lezat.

profil syaikh muhammad zaini ghani


Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al- Banjari. Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H Rahmah. Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M. Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri. Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi
kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya. Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan “formal” masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa itu antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura.
Pada masa ini beliau sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al- Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al- Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid. Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat itu adalah tokoh- tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Walaupun saya tidak begitu mengenal secara mendalam tetapi kita mengenal
Ulama yang tawadhu KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, ingin rasanya berguru dan bertemu muka ketika masih hidup. Syaikh Seman Mulya adalah paman beliau yang secara intensif mendidik beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak. Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al- marhum KH. Hanafiah Gobet). Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri. Selain itu, di antara guru-guru beliau
lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwani Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al- Shufiyah). Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar. Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al- Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al- Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumblah kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah). Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-
atap rumah.Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan. Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita- cerita itu. Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga,
ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahanda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal ini, “bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Beliau langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah. Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan: Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-
orang tidak ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi “bodyguard’ beliau. Beliaupun langsung pulang ke rumah. Pada usia 9 tahun pas malam jum’at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al- Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum’at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong. Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut. Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan- wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi “bakarmi” (orang yang keluar sesuatu dari duburnya). Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang. Karena itu, beliau menolak undangan Mendiang Presiden Soeharto untuk mengikuti acara halal bil halal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang- kurangnya beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau tidak tepat. Pada hari Rabu 10 Agustus 2005 jam 05.10 pagi beliau telah berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun.

Selasa, 25 Oktober 2011

Banjarmasin


Kota
Banjarmasin
merupakan
salah
satu
kota di
Propinsi Klaimantan Selatan, secara geografis terletak antara 3o16 46 - 3o22 54 LS dan antara 114o31 40 - 114o39 55 BT. Daerah ini berbatasan dengan Barito Kuala di utara dan barat, Kabupaten Banjar di timur dan selatan. Luas wilayah Kota Banjarmasin 72 Km2. Secara administratif, daerah ini terbagi menjadi lima Kecamatan dan 51 Kelurahan. Daerah ini juga mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan antara lain di sektor perkebunan dengan komoditi utamanya berupa kelapa sawit, karet, dan kelapa dalam, dari hasil perkebunan ini terdapat beberapa industri yang bahan bakunya berasal dari hasil perkebuanan ini salah satunya PT. Sinar Mas Group yang mengolah kelapa sawit menjadi minyak goreng. Di sektor pertanian, hasil pertanian utama berupa bahan tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi kayu, tanaman holtikultura dna palawija. Potensi di sektor perikanan dan kelautan Kalimantan Selatan (Kalsel) boleh dibilang berlimpah dan akan menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan bila digarap maksimal, apalagi dilengkapi dengan sentuhan teknologi canggih. Kondisi ini didukung luasan tangkapan ikan di laut yang mencapai 120.000 km dengan panjang garis pantai 1.331 Km ditambah periaran nusantara dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Hasil perikanan di daerah ini berupa rumput laut, ikan gurame, udang windu, udang galah, ikan tawes, mujaher. Selain untuk konsumsi lokal, udang windu dan rumput laut sudah diekspor ke Jepang, Singapura, Taiwan dan Eropa. Provinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya Kota Banjarmasin banyak sekali objek wisata yang bisa dinikmati. Wilayah ini banyak dilalui sungai besar dan sungai kecil (kanal),
kegiatan masyarakat yang dilakukan di sungai termasuk kegiatan perdagangan yang dikenal dengan Pasar Terapung. Salah satu kegiatan wisata paling menarik di kota Banjarmasin adalah berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal. Daerah pinggiran kota pemandangan alam sungainya masih asli dan wisatawan dapat menyusuri sepanjang sungai Martapura dan sungai Barito dengan menggunakan perahu Klotok dan Speedboat. Salah satu Landmark Kota Banjarmaisn adalah Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang berada dijalan Jendral Sudirman. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin berdiri megah dijantung kota Banjarmasin menghadap Sungai Martapura yang merupakan masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan dan pusat pengkajian agama Islam.

Kerajaan Negara Dipa

Negara Dipa Berdiri 1387-1495 Didahului oleh Kerajaan Kuripan Digantikan oleh Kerajaan Negara Daha Ibu kota dan Bandar Perdagangan Candi Laras (ibukota I) Candi Agung (ibukota II) Bandar Muara Rampiau
(Bandar Perdagangan) Bahasa Banjar Klasik Agama Syiwa-Buddha Kaharingan Pemerintahan -Raja pertama
-Raja terakhir Monarki Ampu Djatmaka sejak ±1387[1] Putri Kalungsu sampai 1495.[2] Sejarah -Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi 1387
1387-1495 1495 Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan yang berada di pedalaman Kalimantan
Selatan. Kerajaan ini adalah
pendahulu Kerajaan Negara Daha.
Kerajaan Negara Daha terbentuk
karena perpindahan ibukota kerajaan
dari Amuntai (ibukota Negara-Dipa di hulu) ke Muhara Hulak (di hilir).
Sejak masa pemerintahan Lambung Mangkurat wilayahnya terbentang dari Tanjung Silat sampai Tanjung
Puting.
Kerajaan Negara Dipa memiliki
daerah-daerah bawahan yang disebut
Sakai, yang masing-masing dipimpin
oleh seorang Mantri Sakai. Sebuah pemerintahan Sakai kira-kira sama
dengan pemerintahan lalawangan
(distrik) pada masa Kesultanan
Banjar. Salah satu negeri bawahan
Kuripan adalah Negara Dipa.
Menurut Hikayat Banjar, Negara Dipa merupakan sebuah negeri yang
didirikan Ampu Jatmika yang berasal dari Keling (Coromandel).[3] Menurut Veerbek (1889:10) Keling,
propinsi Majapahit di barat daya Kediri.Menurut Paul Michel Munos dalam Kerajaan-kerajaan Awal
Kepulauan Indonesia dan Senanjung
Malaysia, hal 401 dan 435, Empu
Jamatka (maksudnya Ampu Jatmika)
mendirikan pada tahun 1387, dia berasal dari Majapahit. Diduga Ampu
Jatmika menjabat sebagai Sakai di
Negara Dipa (situs Candi Laras) (Margasari). Ampu Jatmika bukanlah keturunan bangsawan dan juga bukan
keturunan raja-raja Kuripan, tetapi
kemudian dia berhasil menggantikan
kedudukan raja Kuripan sebagai
penguasa Kerajaan Kuripan yang
wilayahnya lebih luas tersebut, tetapi walau demikian Ampu Jatmika tidak
menyebut dirinya sebagai raja, tetapi
hanya sebagai Penjabat Raja
(pemangku). Penggantinya Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) setelah bertapa di sungai berhasil
memperoleh Putri Junjung Buih yang
kemudian dijadikan Raja Putri di
Negara Dipa. Raja Putri ini sengaja
dipersiapkan sebagai jodoh bagi
seorang Pangeran yang sengaja dijemput dari Majapahit yaitu Raden Putra yang kelak bergelar Pangeran
Suryanata I. Keturunan Lambung
Mangkurat dan keturunan mereka
berdua inilah yang kelak sebagai raja-
raja di Negara Dipa. Menurut Tutur Candi, Kerajaan
Kahuripan adalah kerajaan yang lebih dulu berdiri sebelum Kerajaan Negara Dipa. Karena raja Kerajaan Kahuripan menyayangi Empu Jatmika sebagai
anaknya sendiri maka setelah dia tua
dan mangkat kemudian seluruh
wilayah kerajaannya (Kahuripan)
dinamakan sebagai Kerajaan Negara
Dipa, yaitu nama daerah yang didiami oleh Empu Jatmika. (Fudiat
Suryadikara, Geografi Dialek Bahasa
Banjar Hulu, Depdikbud, 1984) Kerajaan Negara Dipa semula
beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat hilir sungai Bahan tepatnya pada suatu anak sungai
Bahan, kemudian ibukotanya pindah
ke hulu sungai Bahan yaitu Candi
Agung (Amuntai), kemudian Ampu Jatmika menggantikan kedudukan
Raja Kuripan (negeri yang lebih tua)
yang mangkat tanpa memiliki
keturunan, sehingga nama Kerajaan
Kuripan berubah menjadi Kerajaan
Negara Dipa. Ibukota waktu itu berada di Candi Agung yang terletak di sekitar hulu sungai Bahan (=
sungai Negara) yang bercabang
menjadi sungai Tabalong dan sungai
Balangan dan sekitar sungai
Pamintangan (sungai kecil anak
sungai Negara). Kerajaan ini dikenal sebagai
penghasil intan pada zamannya. Raja Negara Dipa 1. Periode Raja-raja Kuripan yang
tidak diketahui nama penguasa dan
masa pemerintahannya. Kerajaan
Kuripan ini disebutkan dalam
Hikayat Banjar Resensi II. 2. Ampu Jatmaka gelar Maharaja di
Candi, saudagar kaya dari Keling pendiri Negara Dipa tahun 1387 dengan mendirikan negeri Candi
Laras di hilir kemudian mendirikan
(atau menaklukan?) negeri Candi
Agung di hulu di sebalik negeri
Kuripan. Ampu Jatmaka sebagai
penerus ayah angkatnya raja tua Kerajaan Kuripan [= raja negeri
lama yang berdiri sebelumnya]
yang tidak memiliki keturunan,
tetapi Ampu Jatmaka mengganggap
dirinya hanya sebagai Penjabat
Raja. Ketiga negeri/distrik ini dan ditambah negeri Batung Batulis dan
Baparada (= Balangan) yang
muncul di dalam Hikayat Banjar
Resensi II teks Cense, maka inilah
wilayah awal Negara Dipa.
Kemudian Empu Jatmika memerintahkan Tumenggung
Tatahjiwa memperluas wilayah
dengan menaklukan batang
Tabalong, batang Balangan dan
batang Pitap. Ia jua memerintahkan
Arya Megatsari menaklukan batang Alai, batang Labuan Amas dan
batang Amandit. Widuga wilayah
inilah yang menjadi ibukota baru
Tanjungpura di negara bagian
Tanjungnagara (Kalimantan-
Filipina). 3. Lambung Mangkurat [= logat Banjar untuk Lembu Mangkurat]
bergelar Ratu Kuripan, putera
Ampu Jatmika (sebagai Penjabat
Raja). Ia berhasil memperluas
wilayah kerajaan dari Tanjung
Silat/Selatn sampai Tanjung Puting yaitu wilayah dari sungai
Barito sampai sungai Seruyan. 4. Raden Galuh Ciptasari alias Putri
Ratna Janggala Kadiri gelar
anumerta Putri Junjung Buih [=
perwujudan putri buih/putri bunga
air menurut mitos Melayu] yaitu
puteri angkat Lambung Mangkurat, diduga Ratu I ini berasal dari
Majapahit yang disebut Bhre
Tanjungpura. Menurut Pararaton,
Bhre Tanjungpura Manggalawardhani Dyah Suragharini yang berkuasa 1429-1464 adalah puteri Bhre Tumapel II 1389-1427 [= abangnya Suhita] dengan istrinya Bhre Lasem V.
Bhre Tanjungpura [= Bhre
Kalimantan] dan Bhre Pajang III
Sureswari 1429-1450 [= adik bungsu Manggalawardhani]
keduanya menjadi istri Bhre
Paguhan III 1400-1440 [= ayahnya Sripura] tetapi perkawinan
ini tidak memiliki keturunan
(menurut Pararaton). Diduga Bhre
Tanjungpura menikah lagi dengan
Bhre Pamotan I Rajasawardhana
Dyah Wijayakumara. Menurut Prasasti Trailokyapuri
Manggalawardhani adalah Bhre
Daha VI 1464-1474 yakni ibu Ranawijaya (janda Sang Sinagara). 5. Rahadyan Putra alias Raden Aria
Gegombak Janggala Rajasa gelar
anumerta Maharaja Suryanata [=
perwujudan raja dewa matahari],
suami Putri Junjung Buih yang
dilamar/didatangkan dari Majapahit dengan persembahan 10 biji intan. Raja ini berhasil menaklukan raja
Sambas, raja Sukadana/
Tanjungpura, orang-orang besar/
penguasa Batang Lawai (= sungai
Kapuas), orang besar/penguasa
Kotawaringin, orang besar Pasir, raja Kutai, orang besar Berau dan
raja Karasikan. Menurut Hikayat
Banjar Versi II, pasangan ini
memperoleh tiga putera yakni Pangeran Suryawangsa, Pangeran Suryaganggawangsa dan Pangeran Aria Dewangsa [adi-vamsa = pengasas dinasti].
Ketiga putera ini memerintah di
daerah yang berlainan (a) Undan
Besar dan Undan Kuning, (b)
Undan Kulon dan Undan Kecil (c) Candi Laras, Candi Agung, Batung Batulis dan Baparada [= Batu Piring?] serta Kuripan. Setelah beberapa lama memerintah [pada
tahun 1464?] Putri Junjung Buih
dan Maharaja Suryanata
mengatakan hendak pulang ke
tempat asalnya dan pemerintahan
dilanjutkan oleh putera-puteranya. Nama Rajasa yang digunakan raja ini kemungkinan kependekan dari Rajasawardhana alias Dyah Wijayakumara alias Sang Sinagara, yaitu putera sulung Bhre Tumapel
III Dyah Kertawijaya 1429-1447. Dyah Wijayakumara [= Bhre
Kahuripan VI] memiliki istri
bernama Manggalawardhani Bhre Tanjungpura . Dari perkawinan itu lahir empat
orang anak, yaitu Samarawijaya [=
Bhre Kahuripan VII],
Wijayakarana, [= Bhre Mataram
V], Wijayakusuma (= Bhre
Pamotan II), dan Ranawijaya (= Bhre Kertabhumi= Kartapura?=
Tanjungpura?). 6. Aria Dewangsa putera bungsu Putri
Junjung Buih dengan Maharaja
Suryanata (Hikayat Banjar versi
II), menikahi Putri Mandusari
alias Putri Huripan [yang ibunya
meninggal ketika melahirkannya] gelar Putri Kabu Waringin [karena
minum air susu kerbau putih yang
diikat di pohon beringin] yaitu
puteri dari Lambung Mangkurat (=
Ratu Kuripan) dengan Dayang
Diparaja. 7. Raden Sekar Sungsang, cucu Putri Junjung Buih dan juga cucu
Lambung Mangkurat adalah putera
dari pasangan Pangeran Aria
Dewangsa dengan Putri Kabu
Waringin menurut Hikayat Banjar
versi II, tetapi menurut Hikayat Banjar versi I adalah cicit Putri
Junjung Buih dan juga cicit
Lambung Mangkurat. Menurut
versi II, Raden Sekar Sungsang [=
Panji Agung Rama Nata] pernah
merantau ke Jawa [dan diduga sudah memeluk Islam] dan di Jawa ia mengawini wanita setempat dan
memperoleh dua putera bernama
Raden Panji Dekar dan Raden Panji
Sekar [yang kemudian bergelar
Sunan Serabut karena menikahi
puteri Raja Giri]. Sunan Serabut dari Giri inilah yang menuntut
upeti kepada Putri Ratna Sari gelar
Ratu Lamak (puteri dari Raden
Sekar Sungsang dengan Putri
Ratna Minasih yang
menggantikannya sebagai raja). Ratu Lamak kemudian digantikan
adiknya Ratu Anom yang pernah
ditawan ke Jawa karena gagal
membayar upeti. Menurut Hikayat Banjar versi I, ibu
Raden Sekar Sungsang yaitu Putri
Kalungsu alias Putri Kabu Waringin,
permaisuri Maharaja Carang Lalean
(= Aria Dewangga?) sempat menjadi
wali raja ketika Raden Sakar Sungsang masih berumur enam
tahun sewaktu Maharaja Carang
Lalean (= Raden Aria Dewangsa?)
mengatakan bahwa ia hendak pulang
ke tempat asalnya (dan jika raja ini
putera Manggalawardhani maka kemungkinan kepulangannya ke
tempat asal/Majapahit untuk
membantu kakaknya Samarawijaya
berperang melawan pamannya Raja
Majapahit?). Maharaja Carang Lalean
kemudian melantik Lambung Mangkurat sebagai pemangku. Pada masa Maharaja Sari
Kaburungan alias Raden Sekar Sungsang, putera dari Putri Kabu Waringin alias Putri Kalungsu, untuk
menghindari bala bencana ibukota
kerajaan dipindahkan dari Candi
Agung (Amuntai) karena dianggap
sudah kehilangan tuahnya, pusat
pemerintahan dipindah ke arah hilir pada percabangan anak sungai Bahan
yaitu Muara Hulak yang kemudian
diganti menjadi Negara Daha
(sekarang kecamatan Daha Selatan)
sehingga kerajaan disebut dengan
nama yang baru sesuai letak ibukotanya ketika dipindahkan yaitu
Kerajaan Negara Daha. Nama sungai
Bahan pun berganti menjadi sungai
Negara.

Kerajaan Nagara Daha

Negara Daha Berdiri 1478-1526 Didahului oleh Kerajaan Kuripan Digantikan oleh Kesultanan Banjar Ibu kota dan Bandar Perdagangan Nagara, Hulu Sungai Selatan
Bandar Muara Bahan, Barito Kuala
(Bandar Perdagangan) Bahasa Banjar Klasik Agama Syiwa-Buddha Kaharingan
Islam (minoritas) Pemerintahan -Raja pertama
-Raja terakhir Monarki
Maharaja Sari Kaburangan sejak ±1478 Maharaja Tumenggung sampai tahun 1526. Sejarah -Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi 1478
1478-1526 1526
Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha)yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan sejaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Kerajaan Negara Dipa merupakan pendahulu Kesultanan
Banjar. Pusat pemerintahan/ibukota
kerajaan ini berada di Muhara Hulak/
kota Negara (sekarang kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan), sedangkan bandar perdagangan
dipindahkan dari pelabuhan lama
Muara Rampiau (sekarang desa Marampiau) ke pelabuhan baru pada Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala).[1] Kerajaan Negara Daha merupakan
kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang saat itu berkedudukan di Kuripan/Candi Agung, (sekarang kota Amuntai). Pemindahan ibukota dari Kuripan adalah untuk
menghindari bala bencana karena kota
itu dianggap sudah kehilangan
tuahnya. Pusat pemerintahan
dipindah ke arah hilir sungai Negara
(sungai Bahan) menyebabkan nama kerajaan juga berubah sehingga
disebut dengan nama yang baru
sesuai letak ibukotanya yang ketiga
ketika dipindahkan yaitu Kerajaan
Negara Daha. Raja Negara Daha Raja-raja Negara Daha:[2] 1. Raden Sakar Sungsang/Raden Sari Kaburungan/Ki Mas Lalana
bergelar Maharaja Sari Kaburungan [1] atau Panji Agung Rama Nata[3] putera dari Putri Kalungsu/Putri
Kabu Waringin, ratu terakhir Negara Dipa 2. Raden Sukarama bergelar Maharaja
Sukarama, kakek dari Sultan Suriansyah (Sultan Banjar I)[1][4] 3. Raden Paksa bergelar Pangeran Mangkubumi[1] 4. Raden Panjang bergelar Pangeran Tumenggung[1] Wilayah pengaruh kerajaan ini
meliputi propinsi Kalimantan Selatan
dan Kalimantan Tengah, sebelah
barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Islam datang ke daerah Kalimantan
Selatan dari Giri di masa Raden Sekar Sungsang yang pernah
merantau ke pulau Jawa dan disana
telah memiliki anak bernama Raden
Panji Sekar yang menikahi putri dari Sunan Giri kemudian bergelar Sunan Serabut.[3] Tetapi Islam baru menjadi agama negara pada tahun 1526 di masa kekuasaan Sultan Suryanullah[1] atau Sultan Suriansyah.[3] Aksara Arab-Melayu telah digunakan sebelum berdirinya
Kesultanan Banjar. Karena kemelut di Kuripan/Negara Daha, beberapa tumenggung melarikan diri ke negeri Paser di
perbatasan Kerajaan Kutai
Kartanegara dan kemudian
mendirikan Kerajaan Sadurangas di daerah tersebut.

Gua Batu Hapu


Gua Batu Hapu adalah objek wisata yang terletak di dekat pasar Binuang
tepatnya di desa Batu Hapu, kecamatan Hatungun, Tapin yang bisa ditempuh 43 Km dari Kota Rantau dan 154 km dari Kota Banjarmasin. Goa Batu Hapu dari pasar Binuang masuk sejauh 16 km dengan
jalan yang sudah cukup baik,
ditempuh dengan jalan santai sambil
menikmati pemandangan kehidupan
pedesaan dan nuansa alam
pegunungan selama 30 menit, goa ini terletak dipegunungan sehingga
yang mempunyai hobi tantangan
panjat tebing disinilah nyalinya diuji,
tetapi risiko ditanggung sendiri
karena belum diasuransikan,
masyarakat di sekitar goa siap bermitra dengan wisatawan yang
berkeinginan bermalam sambil
menikmati makanan dan kehidupan
masyarakat pedesaan. Goa Batu Hapu merupakan goa yang mempunyai panorama luar biasa
yang mempunyai stalagnit dan
stalagmit menghiasi dalam goa yang
dapat menggugah kebesaran Tuhan
Yang Maha Esa dalam ciptaan-Nya
sebagai pelajaran pengetahuan alam, goa ini telah mendapatkan sentuhan
perbaikan dan penataan, Pemerintah
Daerah sehubungan kerusakan yang
diakibatkan keserakahan oknum
manusia yang hanya mengejar
keuntungan ekonomi sesaat tanpa mensyukuri nikmat lainnya yang
disediakan oleh alam. Menurut legenda yang sampai
sekarang menjadi mitos masyarakat
setempat tentang asal usul terjadinya
Goa Batu Hapu ini adalah Raden
Penganten yang dikutuk oleh ibunya,
Diang Ingsun menjadi batu dan di antara pecahan kapalnya menjadi
gunung dan goa yang ada sekarang
ini.

Candi Agung


Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini diperkirakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sezaman dengan Kerajaan Majapahit. [1] Candi Agung Amuntai merupakan
peninggalan Kerajaan Negaradipa
Khuripan yang dibangun oleh Empu
Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari
kerajaan ini akhirnya melahirkan
Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut
cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa
berdiri tahun 1438 di persimpangan
tiga aliran sungai. Tabalong,
Balangan, dan Negara. Cikal bakal
Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri
Junjung Buih dengan kepala
pemerintahan Patih Lambung
Mangkurat. Negaradipa kemudian
berkembang menjadi Kota Amuntai. Candi Agung diperkirakan telah
berusia 740 tahun. Bahan material
Candi Agung ini didominasi oleh batu
dan kayu. Kondisinya masih sangat
kokoh. Di candi ini juga ditemukan
beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200
tahun SM. Batu yang digunakan
untuk mendirikan Candi ini pun
masih terdapat di sana. Batunya
sekilas mirip sekali dengan batu bata
merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih
kuat dari bata merah biasa.

Pasar Terapung Muara Kuin


Pasar Terapung Muara Kuin adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.[1] Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung,
sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul tujuh pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan
hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan
anak-anak sungainya. Para pedagang wanita yang berperahu
menjual hasil produksinya sendiri
atau tetangganya disebut dukuh,
sedangkan tangan kedua yang
membeli dari para dukuh untuk dijual
kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih
sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang
dalam bahasa Banjar disebut
bapanduk. Kini pasar terapung Kuin dipastikan
menyusul punah berganti dengan
pasar darat. Banyak wisatawan yang
berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai
adanya geliat eksotisme pasar di atas
air. Kepunahan pasar tradisional di
daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh
kemaruk budaya darat serta ditunjang
dengan pembangunan daerah yang
selalu berorientasi kedaratan. Jalur-
jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan
darat. Masyarakat yang dulu banyak
memiliki jukung, sekarang telah
bangga memiliki sepeda motor atau mobil.

Pasar Terapung Lok Baintan


Pasar Terapung Lok Baintan adalah sebuah pasar terapung tradisional yang berlokasi di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar.[1] Secara umum, Pasar Terapung Lok Baintan tak beda
dengan Pasar Terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar
tradisional di atas jukung yang
menjual beragam dagangan, seperti
hasil produksi pertanian/perkebunan
dan berlangsung tidak terlalu lama,
paling lama sekitar tiga hingga empat jam.[2] Di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lokbaintan terlihat
konvoi perahu menuju lokasi pasar
terapung. Perahu ini milik pedagang
dan petani yang akan memasarkan
hasil kebun mereka. Mereka berasal
dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai
Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai
Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.[3] Untuk menuju pasar terapung Lok
Baintan dari pusat kota bisa ditempuh
dengan dua alternatif. Alternatif
pertama menyusuri sungai Martapura dengan menggunakan klotok, sejenis sampan bermesin.
Dengan klotok, perjalanan dari pusat
kota menuju pasar terapung terbilang
cepat karena membutuhkan waktu 30
menit. Alternatif kedua dengan
menggunakan kendaraan darat seperti mobil. Namun, untuk
alternatif kedua membutuhkan waktu
lebih panjang yakni satu jam untuk
mencapai pasar terapung. Hal itu
disebabkan medan perjalanan yang cenderung berat dan berliku-liku. [4] Aktivitas pasar terapung dimulai
pada pukul 09.00 Wita sampai
dengan 11.30 Wita. mereka menjual
berbagai dagangan, seperti sayur-
mayur, buah-buahan, kue-kue
tradisional, dan lain-lain. Yang menarik dari pasar terapung adalah
sistem pertukaran barang. Di pasar
terapung tidak menjadikan uang
sebagai alat transaksi utama.
Pasalnya, penjual dan pembeli dalam
pasar terapung masih menerapkan sistem barter. Umumnya, dagangan yang akan
dibarter adalah hasil bumi berupa
sayur mayur dan buah-buahan.
Besaran dan keberimbangan jumlah
hasil barter tergantung kesepakatan
antarkedua belah pihak. Jika sepakat, maka masing-masing akan
mendapatkan barang sesuai
keinginan dan selanjutnya digunakan untuk keperluan pribadi di rumah.

Syekh Muhammad Arsyad al- Banjari


Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al- Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa
tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau
mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian. Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal
Muhtadin yang banyak menjadi
rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.[2] Silsilah keturunan Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq,[3] berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid
Mindanao. Jalur nasabnya ialah Maulana
Muhammad Arsyad Al Banjari bin
Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan
Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah
bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad
Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al
Idrus Al Akbar (datuk seluruh
keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As
Sakran bin Abdurrahman As Saqaf
bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali
Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin
Muhammad Maula Shama’ah bin
Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin
Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam
Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.[3][4][5] Riwayat Masa kecil Diriwayatkan, pada waktu Sultan
Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika berkunjung ke
kampung Lok Gabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun
sedang asyik menulis dan
menggambar, dan tampaknya cerdas
dan berbakat, dicerita-kan pula bahwa
ia telah fasih membaca Al-Quran
dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta
pada orang tuanya agar anak tersebut
sebaiknya tinggal di istana untuk
belajar bersama dengan anak-anak
dan cucu Sultan. Menikah dan menuntut ilmu di Mekkah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga
usia mencapai 30 tahun. Kemudian
ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. [6] Hasil perkawinan tersebut ialah
seorang putri yang diberi nama
Syarifah. Ketika istrinya mengandung anak
yang pertama, terlintaslah di hati
Muhammad Arsyad suatu keinginan
yang kuat untuk menuntut ilmu di
tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya
kepada sang istri tercinta. Meskipun dengan berat hati
mengingat usia pernikahan mereka
yang masih muda, akhirnya isterinya
mengamini niat suci sang suami dan
mendukungnya dalam meraih cita-
cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad
Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan
cita-citanya. Deraian air mata dan
untaian doa mengiringi
kepergiannya. Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad
mengaji kepada masyaikh terkemuka
pada masa itu. Di antara guru beliau
adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al-
Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad
bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul
Karim al-Samman al-Hasani al-
Madani. Syekh yang disebutkan terakhir adalah
guru Muhammad Arsyad di bidang
tasawuf, dimana di bawah
bimbingannyalah Muhammad Arsyad
melakukan suluk dan khalwat,
sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah. Setelah lebih kurang 35 tahun
menuntut ilmu, timbullah kerinduan
akan kampung halaman. Terbayang
di pelupuk mata indahnya tepian
mandi yang di arak barisan
pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di
pematang dan desiran angin
membelai hijaunya rumput.
Terkenang akan kesabaran dan
ketegaran sang istri yang setia
menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada
Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa
itu. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah,
seorang yang telah banyak
membantunya telah wafat dan
digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang
pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan
serta kemajuan agama Islam di
kerajaannya. Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara
adat kebesaran. Segenap rakyatpun
mengelu-elukannya sebagai seorang
ulama "Matahari Agama" yang
cahayanya diharapkan menyinari
seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci
dicurahkan untuk menyebarluaskan
ilmu pengetahuan yang diperolehnya.
Baik kepada keluarga, kerabat
ataupun masyarakat pada umumnya.
Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’[7]. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya. [8] Hubungan dengan Kesultanan
Banjar Pada waktu ia berumur sekitar 30
tahun, Sultan mengabulkan
keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala
perbelanjaanya ditanggung oleh
Sultan. Lebih dari 30 tahun
kemudian, yaitu setelah gurunya
menyatakan telah cukup bekal
ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad kembali pulang ke
Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan
Tahlilullah seorang yang telah banyak
membantunya telah wafat dan
digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah II yang pada
ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta
kemajuan agama Islam di
kerajaannya. Sultan inilah yang
meminta kepada Syekh Muhammad
Arsyad agar menulis sebuah Kitab
Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama
Kitab Sabilal Muhtadin. Pengajaran dan bermasyarakat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
adalah pelopor pengajaran Hukum
Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman
dari Mekkah, hal pertama yang
dikerjakannya ialah membuka tempat
pengajian (semacam pesantren)
bernama Dalam Pagar, yang
kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat
menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di
seluruh Kerajaan Banjar, banyak
yang merupakan didikan dari
suraunya di Desa Dalam Pagar. Di samping mendidik, ia juga
menulis beberapa kitab dan risalah
untuk keperluan murid-muridnya
serta keperluan kerajaan. Salah satu
kitabnya yang terkenal adalah Kitab
Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-
pegangan pada waktu itu, tidak saja di
seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai
ke-seluruh Nusantara dan bahkan
dipakai pada perguruan-perguruan di
luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam. Karya-karyanya Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad
yang paling terkenal ialah Kitab
Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya
adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-
tafaqquh fi amriddin, yang artinya
dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat
petunjuk untuk mendalami urusan-
urusan agama". Syekh Muhammad
Arsyad telah menulis untuk keperluan
pengajaran serta pendidikan,
beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah:[9] Kitab Ushuluddin yang biasa
disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab
yang membahas soal-soal itikad
serta perbuatan yang sesat, Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab
tentang wanita serta tertib suami-
isteri, Kitabul Fara-idl, semacam hukum-
perdata. Dari beberapa risalahnya dan
beberapa pelajaran penting yang
langsung diajarkannya, oleh murid-
muridnya kemudian dihimpun dan
menjadi semacam Kitab Hukum
Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci,
puasa dan yang berhubungan dengan
itu, dan untuk mana biasa disebut
Kitab Parukunan. Sedangkan
mengenai bidang Tasawuf, ia juga
menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.

Legenda Datu Nuraya

Tak banyak memang masyarakat
yang mengenal Datu Nuraya yang
mempunyai nama Syekh abdul Mu'in
(sebagian riwayat menyebutkan nama
beliau yang sebenarnya adalah Syekh
Abdul jabbar) tetapi legenda tentang Datu Nuraya masih tersimpan
dengan rapi dalam cerita masyarakat
sehari hari khususnya didaerah
Tatakan Rantau Kabupaten Tapin.
Siapa sebenarnya Datu Nuraya dan
apakah semasa hidupnya dia memang memiliki tubuh yang besar bagai
raksasa hingga makamnya mencapai
50 meter lebih ?...itulah
misterinya,namun dari cerita cerita
yang berkembang disana disebut sebut
Datu Nuraya memang memiliki tubuh yang teramat besar,ihwal legenda ini
seperti pd kisah terdahulu tentang
DATU SUBAN, beliau adalah seorang
guru dari sekalian Datu Datu yang
ada di Rantau,seorang guru yang
miskin harta tapi sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya serta dikenal
sebagai orang yg kasyaf,tinggalnya di
munggu tayuh tiwadak gumpa tatakan
dekat liang macan.
Pada saat lebaran atau hari raya Datu
suban yang pada saat itu bersama para muridnya ketika mereka sedang
asyik asyiknya menikmati makanan
yang disediakan oleh tuan rumah,tiba
tiba datang seorang yang bertubuh
sanagat besar,serta merta mereka
terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk
menghadang orang besar tsb.
"assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.."kata orang besar tsb
"waalaykum salam warahmatullahi
wabarakatuh"jawab para datu lalu Datu suban menerangkan kepada
para datu yang hadir bahwa orang
yang datang sambi memberi salam
Insya Allah akan berniat baik.
"Maaf siapa saudara yang datang
dan dari mana asal saudara serta apa maksud saudara?"tanya Datu
Suban,anehnya siraksasa
tersebutmenjawab dengan zikir La
Ilaaha Illallah,dan zikir tersebut
diulang tiap kali Datu suban bertanya
sampai 7 kali,kemudian orang tersebut ambruk ketanah,lalu para
Datu menghampiri orang itu dan
memeriksanya,ternyata orang tsb
sudah meninggal dunia,maka
serempak para datu mengucapkan
innaa lillahi wainna ilahi rajiuun' Melihat keadaan tersebut para datu
tadi bingung bagaimana
memandikannya dan
menguburkannya,untuk mengangkat
saja jadi masalah,apalagi pada waktu
itu kemarau panjang,biasanya tanah sangat keras sedangkan lubang untuk
kuburan harus dibuat sangat panjang
dan lebar,dan untuk memandikannya
diperlukan air yang sangat
banyak,konon pada saat para datu
kebingungan tiba tiba hujan lebat turun dengan derasnya dan ketika
mereka mengangkat tubuh tersebut
sangatlah ringannya seperti sehelai
kapas,serentak para datu berseru
"subhanallah"
sebelum para datu mewaradunya (membersihkan) mayat itu,datu
suban menemukan sebuah selepang
(tas) dari dalam pakaiannya,setelah
dibuka ternyata didalamnya terdapat
sebuah kitab yg sangat terkenal kini
dengan nama kitab barencong,para datu berbagi tugas ada yg
memandikannya,ada yg mencari batu
gunung untuk nisan dan ada yg
membikin lubang untuk kuburan
tsb,konon lubang yg digali tidak
mencukupi untuk mengubur terpaksa orang tsb dilipat hamzah kakinya.
Tepat 7 hari maarwahi orang besar
tsb maka berkumpullah semua datu
dirumah Datu Taming Karsa
disimpang tiga tandui baruh hariyung
yang dinamakan Pamatang Gintungan Misan Batu ,disanalah
Datu suban mulai membuka kitab
peninggalan yg didapat dari orang
besar tsb dengan mengucap
bismillahir rahmanir rahim lalu
dibuka kitab tsb oleh datu Suban lembar demi lembar hingga
selesai,ternyata isi kitab tsb
mengandung bermacam macam ilmu
baik ilmu dunia maupun ilmu
akhirat,konon setelah kitab tersebut
turun kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara
angkatnya yaitu Syekh Muhammad
Arsyad Al-Banjari dan disimpan
keturunan beliau hingga saat ini.
Atas saran dari Datu Labai
Duliman yang ahli falakiah orang besar tsb dinamakan NURAYA,karena
orang tersebut datang pada hari raya
dan sesuai dengan badannya yg besar
dan tinggi seperti RAYA,datu Nuraya
bersal dari dua kata NUR dan
RAYA ...NUR dalam bahasa arabnya cahaya,sedangkan RAYA artinya luas
jadi NURAYA artinya pembawa
cahaya dan sinar serta lmu yg luas
seperti Raya,sampai sekarang
makam dari Datu Nuraya ramai
diziarahi orang karena keanehan dan kekeramatannyadan merupakan
makam terpanjang didunia letaknya
didaerah Tatakan Rantau Kabupaten
Tapin Kalimantan Selatan.

Senin, 24 Oktober 2011

Riwayat Datu Suban

kali ini aku mau menceritakan tentang
riwayat hidup Datuk Suban,guru dari
Datu Sanggul,dan inilah riwayat
hidup beliau,Datu Suban sering disebut juga datu sya'iban ibnu
zakaria zulkifli dgn ibunda bernama
maisyarah,beliau hidup dikampung
Muning Tatakan kabupaten Tapin
Rantau Kalsel,beliau
semasa hidupnya mempunyai martabat tinggi dan mulia,peramah
dan paling
disegani yg patut diteladani oleh kita
sebagai penerus dan pewaris yg hidup
diabad modern ini. Datu Suban
adalah guru dari semua datu orang muning,selain ahli ilmu
tasawuf,Datu Suban juga ahli ilmu
taguh
(kebal),ilmu kabariat,ilmu dapat
berjalan
diatas air,ilmu maalih rupa,ilmu pandangan jauh,ilmu
pengobatan,ilmu kecantikan,ilmu
falakiah,ilmu tauhid dan
ilmu firasat,dgn ilmu yang
dimilikinya
banyaklah org yg menuntut ilmu kepada
beliau dan yg paling terkenal ada 13
orang.. 1.Datu Murkat 2.Datu
Taming Karsa 3.Datu Niang thalib
4.Datu Karipis 5.Datu Ganun 6.Datu
Argih 7.Datu ungku 8.Datu Labai Duliman 9.Datu Harun 10.Datu
Arsanaya 11.Datu Rangga 12.Datu
Galuh Diang Bulan 13.Datu Sanggul
Diantara ilmu ilmu yg selalu
diajarkan
dlm setiap kesempatan beliau selalu mengajarkan ilmu mengenal diri
(ilmu
ma'rifat) dgn tarekat
memusyahadahkan
Nur Muhammad,hal ini tidaklah
mengherankan karena sebelum Datu Suban mengajarkan ajaran makrifat
melalui
tarekat Nur Muhammad ini,seorang
ulama
banjar yaitu syekh Ahmad
Syamsuddin Al- Banjari telah menulis asal kejadian
Nur
Muhammad itu,yg naskahnya
ditemukan
oleh seorang orientalis bangsa
Belanda R.O.Winested. Datu Suban dikenal sebagai wali Allah
beliau memiliki karomah Kasyaf yaitu
terbukanya tabir rahasia bagi beliau
sehingga dapat mengetahui sampai
dimana kemampuan murid muridnya
dlm menerima ilmu-ilmu yg
diberikannya,seperti akan
menyerahkan
kitab pusaka yg kemudian hari
dinamakan
kitab Barencong,kitab tsb beliau serahkan
kepada Datu Sanggul (Abdussamad)
,murid terakhir yg belajar kepada
beliau,menurut pandangan Kasyaf
beliau hanya Abdussamad lah yg
dapat menerima,mengamalkan dan mengajarkannya,karomah beliau yg
lain adalah
beliau mengetahui ketika akan tiba
ajalnya,ketika dari mata beliau keluar
sebuah sosok yg rupanya sangat
bagus,bercahaya dan berpakaian hijau,ini
berarti tujuh hari lagi beliau akan
berpindah alam,empat hari kemudian
dari
tubuh beliau keluar lagi cahaya
berwarna putih amat cemerlang,besarnya
sama dgn tubuh beliau dan berbau
harum semerbak,ini berarti tiga hari
lagi beliau
akan meninggalkan dunia fana
ini,oleh karena itu beliau segera
mengumpulkan
semua murid muridnya,setelah
semua
muridnya berkumpul beliau berkata,
"Murid murid yg aku cintai,kalian jangan terkejut dengan panggilan
mendadak
ini,karena pertemuan kita hanya hari
ini
saja lagi,nanti malam sekitar jam
satu tengah malam aku akan
meninggalkan
dunia yg fana ini,hal ini sudah tidak
bisa
ditunda tunda lagi,karena ketentuan
ALLAH telah berlaku" Kemudian beliau membacakan firman
ALLAH surat An-Nahal ayat 61 yang
berbunyi: "Apabila sudah tiba waktu
yang
ditentukan maka tidak seorang pun
yang dapat mengundurkannya dan juga
tidak
ada yang dapat mendahulukannya."
mendengar ucapan beliau itu semua
yg hadir diam membisu seribu
bahasa. "Nah,waktuku hampir tiba"kata Datu Duban memecah
kesunyian itu. "Mari kita berzikir
bersama sama untuk mengantarkan
kepergianku"kata Datu Suban
lagi.Semua murid dipimpin oleh
beliau serentak mengucapkan zikir "Hu Allah...Hu Allah...Hu Allah..."
"Perhatikanlah ..apabila aku turun
kurang lebih 40 hasta sampai pada
batu berwarna merah sebelah dan
hitam sebelah,aku berdiri disana
nanti,maka pandanglah aku dengan sebenar-benarnya,yang ada ini atau
yang tiada nanti,lihatlah aku ada atau
tiada,kalau ada masih diriku ini
tidak,menjadi tiada,berarti ilmu yang
kuajarkan kepada kalian belum
sejati,tetapi bila aku menjadi tiada berarti ilmu yang kuajarkan kepada
kalian adalah ilmu sejati dan
sempurna" Setelah berkata demikian
beliau diam,kemudian meletuslah
badan Datu Suban dan timbul asap
putih,hilang asap putih dan timbul cahaya (nur) yang memancar mancar
sampai keatas ufuk yang
tinggi,kemudian lenyap ditelan
kemunculan cahaya rembulan.Semua
yang hadir takjub menyaksikan
kejadian itu,kemudian terdengar gemuruh ucapan murid murid
beliau...Inna lillahi wainna ilaihi
raaji'uun.

Riwayat Datu Sanggul


Menurut riwayat, Syekh
Muhammad Arsyad al-Banjari
pernah bertemu dengan
DatuSanggul sewaktu masih
menuntut ilmu di Mekkah.
Dalam beberapa kali pertemuan tersebut, keduanya
kemudian sharing dan diskusi
masalah ilmu ketuhanan. Hasil
dari diskusi mereka tersebut
kemudian ditulis dalam sebuah
kitab yang oleh orang Banjar dinamakan kitab Barencong.
Siapakah Datu Sanggul? Berdasarkan tutur lisan yang
berkembang dalam masyarakat
dan beberapa catatan dari
beberapa orang penulis buku,
sepengetahuan penulis
setidaknya ada tiga versi yang menjelaskan tentang sosok dan
kiprah Datu Sanggul. Versi Pertama menyatakan
bahwa Datu Sanggul adalah
putra asli Banjar. Kehadirannya
menjadi penting dan lebih
dikenal sejarah lewat lisan dan
berita Syekh Muhammad Arsyad yang bertemu dengannya ketika
beliau masih belajar di Mekkah.
Dalam suatu riwayat diceritakan
bahwa Datu Sanggul pernah
berbagi ilmu dengan Syekh
Muhammad Arsyad dan melahirkan satu kitab yang
disebut dengan kitab Barencong
yang isinya menguraikan
tentang ilmu tasawuf atau
rahasia-rahasia ketuhanan dan
sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan serta
diragukan keberadaannya,
karena tidak pernah ditemukan
naskahnya. Namun walaupun
demikian pengertian dari kitab
Barencong itu sendiri dapat kita tinjau dan pahami dari dua sisi,
yakni pemahaman secara
tersurat dan secara tersirat.
Secara tersurat boleh jadi kitab
tersebut memang ada, berbentuk
seperti umumnya sebuah buku dan ditulis bersama sebagai
suatu konsensus keilmuan oleh
Syekh Muhammad Arsyad dan
Datu Sanggul (hal ini
menggambarkan adanya
pengakuan dari Syekh Muhammad Arsyad akan
ketinggian ilmu tasawuf Datu
Sanggul). Kemudian secara tersirat dapat
pula dipahami bahwa maksud
kitab Barencong tersebut adalah
simbol dari pemahaman
ketuhanan Syekh Muhammad
Arsyad yang mendasarkan tasawufnya dari langit turun ke
bumi dan simbol pemahamanan
tasawuf Datu Sanggul dari bumi
naik ke langit. Maksudnya kalau
Syekh Muhammad Arsyad
belajar ilmu ketuhanan dan tasawuf berdasarkan ayat-ayat
Alquran yang telah diwahyukan
kepada Nabi Saw dan tergambar
dalam Shirah hidup beliau,
sahabat dan orang-orang sholeh
sedangkan Datu Sanggul mengenal hakikat Tuhan
berdasarkan apa-apa yang telah
diciptakan-Nya (alam), sehingga
dari pemahaman terhadap alam
itulah menyampaikannya kepada
kebenaran sejati yakni Allah, karena memang pada alam dan
bahkan pada diri manusia
terdapat tanda-tanda kekuasaan-
Nya bagi mereka yang
mentafakurinya. Dengan kata
lain ilmu tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu laduni yang telah
dikaruniakan oleh Allah
kepadanya. Karena itulah orang
yang ingin mempelajari ilmu
tasawuf pada dasarnya harus
menggabungkan dua sumber acuan pokok, yakni berdasarkan
wahyu (qauliyah) dan
berdasarkan ayat-ayatNya
“tanda-tanda” (qauniyah) yang
terpampang jelas pada alam
atau makhluk ciptaanNya. Versi Kedua, menurut Zafri
Zamzam (1974) Datu Sanggul
yang dikenal pula sebagai Datu
Muning adalah ulama yang aktif
berdakwah di daerah bagian
selatan Banjarmasin (Rantau dan sekitarnya), ia giat
mengusahakan/memberi tiang-
tiang kayu besi bagi orang-orang
yang mendirikan masjid,
sehingga pokok kayu ulin besar
bekas tebangan Datu Sanggul di Kampung Pungguh (Kabupaten
Barito Utara) dan pancangan
tiang ulin di pedalaman
Kampung Dayak Batung
(Kabupaten Hulu Sungai
Selatan) serta makam beliau yang panjang di Kampung
Tatakan (Kabupaten Tapin)
masih dikenal hingga sekarang.
Salah satu karya spektakulernya
yang masih dikenang hingga kini
adalah membuat tatalan atau tatakan kayu menjadi soko guru
masjid desa Tatakan,
sebagaimana yang pernah
dilakukan oleh Sunan Kalijaga
ketika membuat soko guru dari
tatalan kayu untuk masjid Demak. Tidak ada yang tahu
siapa nama asli tokoh ini,
sebutan Datu Sanggul adalah
nama yang diberikan oleh Syekh
Muhammad Arsyad ketika beliau
menjawab tidak memakai ilmu atau bacaan tertentu, kecuali
“hanya menjaga keluar
masuknya nafas, kapan ia
masuk dan kapan ia keluar”,
sehingga dapat secara rutin
pulang pergi sholat ke Masjidil Haram setiap hari Jumat. Versi ketiga, berdasarkan buku
yang disusun oleh H.M. Marwan
(2000) menjelaskan bahwa
nama asli Datu Sanggul adalah
Syekh Abdus Samad, ia berasal
dari Aceh (versi lain menyebutkan dari Hadramaut
dan dari Palembang).
Sebelumnya Datu Sanggul sudah
menuntut ilmu di Banten dan di
Palembang, ia menjadi murid
ketiga dari Datu Suban yang merupakan mahaguru para datu
yang ahli agama dan mendalami
ilmu Tasawuf asal Pantai Jati
Munggu Karikil, Muning
Tatakan Rantau. Informasi lain
yang berkembang juga ada yang menyatakan bahwa nama asli
Datu Sanggul adalah Ahmad
Sirajul Huda atau Syekh Jalil.
Datu Sanggul atau Syekh Abdus
Samad satu-satunya murid
yang dipercaya oleh Datu Suban untuk menerima kitab yang
terkenal dengan sebutan kitab
Barincong, beliau juga dianggap
memiliki ilmu kewalian,
sehingga teristimewa di antara
ketigabelas orang murid Datu Suban. Datu Sanggul lebih muda wafat,
yakni di tahun pertama
kedatangan Syekh Muhammad
Arsyad di Tanah Banjar. Berkat
keterangan Syekh Muhammad
Arsyad-lah identitas kealiman dan ketinggian ilmu Datu
Sanggul terkuak serta diketahui
oleh masyarakat luas, sehingga
mereka yang asalnya
menganggap “Sang Datu”
sebagai orang yang tidak pernah shalat Jumat sehingga tidak
layak untuk dimandikan, pada
akhirnya berbalik menjadi
hormat setelah diberitakan oleh
Syekh Muhammad Arsyad sosok
Datu Sanggul yang sebenarnya. Banyak cerita yang lisan yang
beredar di masyarakat berkenaan
dengan keramat Datu Sanggul.
Diceritakan bahwa Kampung
Tatakan pernah dilanda Banjir,
akibat hujan lebat, sehingga jalan-jalan di Kampung
tergenang oleh air. Pas ketika
hari Jumat, biasanya orang
kalau mengambil air wudhu di
sungai yang mengalir, dengan
duduk di batang. Tetapi ketika Datu Sanggul datang dan
berwudhu dalam penglihatan
orang-orang di masjid beliau
menceburkan diri ke sungai,
tetapi anehnya ketika naik, badan
beliau tidak basah. Jamaah Masjid juga pernah
menyaksikan ketika shalat,
dalam beberapa menit
tubuh Datu Sanggul melayang di
udara dan hilang dari
pandangan orang banyak. Riwayat juga ada menceritakan
tentang berpindah-pindahnya
kuburan dari Datu Sanggul dari
beberapa tempat, sampai yang
terakhir di Tatakan. Berdasarkan paparan di atas
menjadi satu catatan penting,
untuk menggagas kembali
penelitian sejarah yang
mengungkapkan riwayat hidup
tokoh sentral masyarakat Tapin ini secara detail, guna
melengkapi dan memperkaya
khazanah tulisan-tulisan yang
sudah ada mengenai riwayat
hidup, sejarah perjuangan dan
kiprah beliau di Bumi Kalimantan, seperti “Riwayat
Datu Sanggul dan Datu-Datu”
oleh sejarawan Banjar Drs. H.
A. Gazali Usman, atau pula
“Manakib Datu Sanggul”, oleh
H.M. Marwan. Tenut saja, agar generasi yang hidup di masa
sekarang dan masa mendatang
tidak pangling
terhadap sejarah dan tokoh yang
menjadi “maskot” daerah
mereka. Dalam artian bukan maksud untuk mengagung-
agungkan apalagi
mengkultuskan mereka, tetapi
untuk mengikuti jejak hidup,
perjuangan dan akhlak positif
sesuai prinsip ajaran agama yang telah ditorehkannya. Wallahua’lam.

Sabtu, 22 Oktober 2011

filosofi rumah adat banjar

Filosofi Rumah Adat Banjar Pemisahan jenis dan bentuk rumah
Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada
kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu
alam atas dan alam bawah.Rumah
Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni
seakan-akan tinggal di bagian duniatengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah
mereka hidup dalam keluarga besar,
sedang kesatuan dari dunia atas
dan dunia bawah melambangkan
Mahatala dan Jata (suami dan
isteri). rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya
Dunia Atas dan Dunia Bawah Dwitunggal Semesta Pada peradaban agraris, rumah
dianggap keramat karena
dianggap sebagai tempat
bersemayam secara ghaib oleh para
dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk
patung pria dan wanita yang
disembah dan ditempatkan dalam
istana. Pemujaan arwah nenek
moyang yang berwujud pemujaan
Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas
dan alam bawah Kosmogoni
Kaharingan-Hindu. Suryanata
(surya= matahari; nata= raja)
sebagai manifestasi dewa
Matahari dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang
menjadi orientasi karena terbit
dari ufuk timur (orient) selalu
dinantikan kehadirannya sebagai
sumber kehidupan, sedangkan
Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan
tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa . Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja
merupakan citra kekuasaan bahkan
dianggap ungkapan berkat dewata
sebagai pengejawantahan
lambang Kosmos Makro ke dalam
Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang "dunia bawah"
sedangkan Pangeran Suryanata
perlambang "dunia atas". Pada
arsitektur Rumah Bubungan Tinggi
pengaruh unsur-unsur tersebut
masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/ didestilir (bananagaan)
melambangkan "alam bawah"
sedangkan ukiran burung enggang gading melambangkan "alam atas". Pohon Hayat Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi dengan atapnya
yang menjulang ke atas merupakan
citra dasar dari sebuah "pohon
hayat" yang merupakan lambang
kosmis. Pohon Hayat merupakan pencerminan dimensi-dimensi dari
satu kesatuan semesta. Ukiran
tumbuh-tumbuhan yang subur pada Tawing Halat (Seketeng) merupakan perwujudan filosofi
"pohon kehidupan" yang oleh orang Dayak disebut Batang Garing dalam kepercayaan Kaharingan yang pernah dahulu berkembang dalam
kehidupan masyarakat Kalimantan
Selatan pada periode sebelumnya. Payung Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi dengan atapnya
yang menjulang ke atas merupakan
sebuah citra dasar sebuah payung
yang menunjukkan suatu orientasi
kekuasaan ke atas. Payung juga menjadi perlambang
kebangsawanan yang biasa
menggunakan "payung kuning"
sebagai perangkat kerajaan.
Payung kuning sebagai tanda-
tanda kemartabatan kerajaan Banjar diberikan kepada para
pejabat kerajaan di suatu daerah. Simetris Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi yang simetris,
terlihat pada bentuk sayap
bangunan atau anjung yang terdiri
atas Anjung Kanan dan Anjung
Kiwa. Hal ini berkaitan dengan filosofi simetris (seimbang)
dalam pemerintahan Kerajaan
Banjar, raja sebagai kepala negara
dibantu oleh mangkubumi sebagai
kepala pemerintahan, sedangkan
mangkubumi dibantu oleh dua orang asisten yaitu Mantri Panganan
(Asisten Kanan) dan Mantri
Pangiwa (Asisten Kiri) yang
membawahi 4 orang menteri
(Mantri Ampat= menteri
berempat) yang bergelar Patih dan 4 menteri lainnya yang bergelar
Sang, sehingga terdapat 8 menteri
utama (menteri berdelapan),
dimana tiap-tiang menteri
tersebut memiliki pasukan masing-
masing. Konsep simetris ini tercermin pada rumah bubungan
tinggi. Kepala-Badan-Kaki Bentuk rumah Bubungan Tinggi
diibaratkan tubuh manusia terbagi
menjadi 3 bagian secara vertikal
yaitu kepala, badan dan kaki.
Sedangkan anjung diibaratkan
sebagai tangan kanan dan tangan kiri yaitu anjung kanan dan anjung
kiwa (kiri). Tata Nilai Ruang Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi
(istana) terdapat ruang Semi
Publik yaitu Serambi atau surambi
yang berjenjang letaknya secara
kronologis terdiri dari surambi
muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan
sebelum memasuki pintu utama
(Lawang Hadapan) pada dinding
depan (Tawing Hadapan ) yang
diukir dengan indah. Setelah
memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private.
Pengunjung kembali menapaki
lantai yang berjenjang terdiri dari
Panampik Kacil di bawah,
Panampik Tangah di tengah dan
Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau "dinding
tengah" yang menunjukkan adanya
tata nilai ruang yang hierarkis.
Ruang Panampik Kecil tempat bagi
anak-anak, ruang Panampik
Tangah sebagai tempat orang- orang biasa atau para pemuda dan
yang paling utama adalah ruang
Panampik Basar yang
diperuntukkan untuk tokoh-tokoh
masyarakat, hanya orang yang
berpengetahuan luas dan terpandang saja yang berani duduk
di area tersebut. Hal ini
menunjukkan adanya suatu
tatakrama sekaligus
mencerminkan adanya pelapisan
sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas
adalah golongan berdarah biru
disebut Tutus Raja (bangsawan)
dan lapisan bawah adalah golongan
Jaba (rakyat) serta di antara
keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan
jabatan-jabatan dalam Kerajaan
beserta kaum hartawan. Tawing Halat/Seketeng Ruang dalam rumah Banjar
Bubungan Tinggi terbagi menjadi
ruang yang bersifat private dan
semi private. Di antara ruang Panampik Basar yang bersifat semi private dengan ruang Palidangan yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya "dinding pemisah", kalau di daerah Jawa disebut Seketeng. Jika ada selamatan maupun menyampir
(nanggap) Wayang Kulit Banjar maka pada Tawing Halat ini bagian
tengahnya dapat dibuka sehingga
seolah-olah suatu garis pemisah
transparan antara dua dunia (luar
dan dalam) menjadi terbuka.
Ketika dilaksanakan "wayang sampir" maka Tawing Halat yang
menjadi pembatas antara
"dalam" (Palidangan) dan luar
(Paluaran/Panampik Basar)
menjadi terbuka. Raja dan
keluarganya serta dalang berada pada area "dalam" menyaksikan
anak wayang dalam wujud aslinya
sedangkan para penonton berada
di area "luar" menyaksikan wayang
dalam bentuk bayang-bayang. Denah Cacak Burung Denah Rumah Banjar Bubungan
Tinggi berbentuk "tanda tambah"
yang merupakan perpotongan dari
poros-poros bangunan yaitu dari
arah muka ke belakang dan dari
arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral. Di tengah- tengahnya tepat berada di bawah
konstruksi rangka Sangga Ribut di
bawah atap Bubungan Tinggiadalah Ruang Palidangan yang merupakan
titik perpotongan poros-poros
tersebut. Secara kosmologis maka
disinilah bagian paling utama dari
Rumah Banjar Bubungan Tinggi.
Begitu pentingnya bagian ini cukup diwakili dengan penampilan
Tawing Halat (dinding tengah)
yang penuh ukiran-ukiran (Pohon
Hayat) yang subur makmur. Tawing
Halat menjadi fokus perhatian dan
menjadi area yang terhormat. Tawang Halat melindungi area
"dalam" yang merupakan titik
pusat bangunan yaitu ruang
Palidangan (Panampik Panangah). Referensi 1. ^(Indonesia) Mohamad Idwar Saleh, Rumah tradisional Banjar, rumah
bubungan tinggi, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Proyek Pengembangan
Permuseuman Kalimantan Selatan, 1980