Sabtu, 19 Mei 2012
SULTAN HIDAYATULLAH KHALILULLAH
PANGERAN M.NOOR
Drs. SAADILLAH MURSYID
ZAINI AZHAR MAULANI
KYAI H. IDHAM CHALID
PANGLIMA BATUR
TJILIK RIWUT SANG PAHLAWAN DAYAK NASIONAL
BRIGADIR JENDERAL TNI H. HASAN BASRY
PANGERAN ANTASARI
PERNIKAHAN ALA ADAT BANJAR
Dahulu orang Banjar umumnya tidak mengenal istilah “berpacaran” sebelum memasuki jenjang perkawinan seperti yang kita ketahui sekarang. Namun, saat itu hanya dikenal istilah “batunangan”. Yaitu, ikatan kesepakatan dari kedua orang tua masing-masing untuk mencalonkan kedua anak mereka kelak sebagai suami isteri. Proses “batunangan” ini dilakukan sejak masih kecil, namun umumnya dilakukan setelah akil balig. Hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua atau kerabat terdekat saja.
Pelaksanaan upacara perkawinan memakan waktu dan proses yang lama. Hal ini dikarenakan harus melalui berbagai prosesi, antara lain :
1. Basasuluh.
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan, atau yang sering dikatakan orang dinilai “bibit-bebet-bobot”nya terlebih dahulu. Setelah ditemukan calon yang tepat segera dicari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang menyunting atau belum. Kegiatan ini dalam istilah bahasa Banjar disebut dengan BASASULUH.
2. Batatakun atau Melamar.
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis. Jika lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari pertemuan selanjutnya yaitu Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.
3. Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki.
Untuk dapat menghadapi utusan dari pihak keluarga lelaki, terutama dalam hal bersilat lidah, maka pihak keluarga sang gadis itu pun meminta kepada keluarga atau tetangga dan kenalan lainnya, yang juga memang ahli dalam bertutur kata dan bersilat lidah.
Jika sudah tercapai kesepakatan tentang masalah kawin tersebut. Maka kemudian ditentukan pula pertemuan selanjutnya yaitu Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.
4. Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga. Apabila acara Maatar Jujuran ini telah selesai maka kemudian dibicarakan lagi tentang hari pernikahan dan perkawinan.
5. Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit).
Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimung.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimung. Setelah Batimung badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimung tadi.
c. Badudus atau Bapapai.
Mandi Badudus atau bapapai adalah uapacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasa dan juga merupakan sebagai penghalat atau penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilakukan pada waktu sore atau malam hari. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.
Kegiatan pada upacara perkawinan ini antara lain:
1). Badua Salamat Pengantin.
Hal ini ditujukan untuk keselamatan pengantin dan seluruh keluarga yang melaksanakan upacara perkawinan itu. Dalam hal ini pembacaan doa-doa dipimpin oleh Penghulu atau Ulama terkemuka di kampung tersebut. Selesai prosesi tersebut para undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan. Hal ini berlangsung hingga acara Maarak Pengantin.
2). Bahias atau Merias Pengantin.
Sekitar jam 10 pagi, tukang rias sudah datang ke rumah mempelai wanita untuk merias. Kegiatan ini meliputi tata rias muka, rambut dan pakian, serta kelengkapan lainnya seperti Palimbayan dan lainnya. Bagi pengantin pria, bahias ini dilakukan setelah sholat Zuhur.
3). Maarak Pengantin.
Apabila pihak pengantin sudah siap berpakaian, maka segera dikirim utusan kepada pihak pria bahwa mempelai wanita sudah menunggu kedatangan mempelai pria. Maka kemudian diadakanlah upacara Maarak Pengantin. Pada waktu maarak pengantin biasanya diiringi dengan kesenian Sinoman Hadrah atau Kuda Gepang. Pihak wanita juga mengadakan hal yang sama untuk menyambut mempelai pria juga untuk menghibur para undangan.
4). Batatai atau Basanding.
Kedatangan pengantin pria disambut dengan Salawat Nabi dan ketika Salawat itu dikumandangkan pengantin wanita keluar dari dinding kurung untuk menyambut pengantin pria. Di muka pintu, pengantin pria disambut oleh pengantin wanita, untuk beberapa saat mereka bersanding di muka pintu, kemudian mereka di bawa ke Balai Warti untuk bersanding secara resmi.
batatai
Apabila telah cukup waktu bersanding, kedua mempelai diturunkan dari Balai Warti untuk kemudian dinaikkan keusungan atau dinamakan Usung Jinggung, yang diiringi kesenian Kuda Gepang. Setelah di Usung Jinggung kedua mempelai disandingkan di petataian pengantin yang disebut Geta Kencana. Kemudian dilanjutkan dengan sujud kepada orang tua pengantin wanita dan para hadirin serta memakan nasi pendapatan (Badadapatan). Setelah itu kedua pengantin berganti pakaian untuk istirahat.
e. Bajajagaan Pengantin
Pada malam hari pertama sampai ketiga sejak hari perkawinan, biasanya diadakan acara Bajajagaan atau menjagai pengantin, yang isinya dengan pertunjukan kesenian, seperti Bahadrah atau Barudat (Rudat Hadrah), Bawayang Kulit (Wayang Kulit), Bawayang Gong (Wayang Orang), Mamanda dan sebagainya.
f. Sujud
Tiga hari sesudah upacara perkawinan, kedua mempelai kemuadian di bawa ke rumah orang tua pengantin pria untuk sujud kepada orang tua pengantin pria. Malam harinya juga diadakan acara menjagai pengantin dengan maksud untuk menghibur kedua mempelai yang sedang berkasih mesra itu.
Keesokan harinya mereka dibawa lagi ke rumah mempelai wanita untuk selanjutnya tinggal di tempat mempelai wanita bersama orang tua mempelai wanita untuk mengatur kehidupan berumah tangga. Apabila telah mampu untuk mencari nafkah sendiri barulah berpisah dalam artian berpisah dalam hal makan saja, namun tetap tinggal bersama orang tua mempelai wanita.
Begitulah proses upacara perkawinan yang dilakukan oleh suku Banjar pada masa lalu. Namun pada era globalsasi saat ini tata cara perkawinan tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat khususnya masyarakat Banjar. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman, yang otomatis dianggap tidak sesuai lagi dengan budaya-budaya leluhur seperti contohnya upacara perkawinan tersebut. Dan juga dianggap terlalu bertele-tele. Hal ini tentu sangat menyedihkan bagi kita, budaya leluhur yang diajarkan secara turun temurun malah dengan mudahnya kita tinggalkan tanpa ada upaya untuk melestarikannya. Namun, masih ada juga daerah yang tetap melaksanakan prosesi tersebut. Seperti di daerah Margasari Kab. Tapin, di sana masih dilaksanakan prosesi tersebut, namun tidak semuanya dilaksanakan. Maksudnya ada bagian tertentu yang tidak dilaksanakan lagi karena dianggap sudah tidak sesuai.
Pada masa sekarang dalam hal mencari calon isteri tidak lagi pengaruh orang tua berperan penting, sekarang anak muda dalam hal mencari jodoh ditempuh dengan cara pacaran seperti yang telah dikemukakan di bagian awal tadi. Di masyarakat perkotaan sudah jarang yang memakai tata cara perkawinan seperti ini, namun tentu ada saja orang yang tetap melaksanakannya.
Untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan untuk melestarikan kebudayaan yang kita miliki ini. Negara kita terkenal karena kebudayaannya yang unik untuk itu kita sebagai generasi penerus haruslah melestarikan kebudayaan yang kita miliki.
Sabtu, 26 November 2011
TAMAN HUTAN PINUS


Taman Hutan Pinus merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang sudah terkenal di kalimantan khusunya bagi masyarakat Banjar.Kita dapat beRekreasi di bawah Hutan Pinus yang rindang, sehingga sangat baik duduk di bawah pohon sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Taman Hutan Pinus merupakan penghijauan kota dan kebun pembinaan. Taman Hutan Raya Sultan Adam terletak di Desa Mandiangin Kecamatan Karang Intan, sekitar 55 km dari Kota Banjarmasin yang mempunyai luas 106.400 ha. Selain itu terdapat dua peninggalan jaman Belanda yang terletak 2 km dari Tahura. Di sana ada Gajah Kampung, Rusa dan Buaya yang dilindungi. letaknya sekitar sekitar 35 km dari Kota Banjarmasin.
AIR TERJUN RIAM ANAI

Air Terjun Riam Hanail memiliki
ketinggian terjunan air 4 meter
dengan air yang sangat jernih dan
debitnya yang cukup deras.
Lokasi
Terletak di Desa Malaris,
Kecamatan Loksado, kabupaten
Hulu Sungai Selatan, Propinsi
Kalimantan Selatan.
Aksesbilitas
Berjarak ± 2 km dari desa Malaris
dekat PLTA Loksado dan dapat
dengan mudah ditelusuri dengan motor
atau jalan kaki.
AIR TERJUN HARATAI

Objek wisata Air terjun Haratai terletak di desa Haratai, lebih kurang 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari Balai Haratai, dapat ditempuh dengan memasuki hutan bambu dan perkebunan karet atau kayu manis. Objek wisata Air terjun Haratai merupakan salah satu objek wisata yang ada di kalimantan selatan. air terjun Haratai terletak di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Air terjun Haratai merupakan salah satu obyek wisata yang menjadi primadona bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karena daerahnya yang asri dan juga pemandangannya yang indah.
Saat pertama kali kita mendatangi tempat ini, mata kita akan terkagum melihat keindahan deburan air yang jatuh, dengan suara gemuruh yang cukup keras.Air terjun tersebut bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing 13 meter. selain itu di tempat ini juga di sediakan gazebo untuk kita beristirahat, atau bersantai sambil menikmati suasana.
AIR PANAS TANUHI

Pemandian Air
Panas Tanuhi terLetak di lembah pegunungan Loksado. Di sisinya mengalir sungai jeram nan
jernih dan dikelilingi tanaman yang menghijau. Untuk menuju lokasi wisata Pemandian Air Panas Tanuhi tersebut sangat mudah, karena dapat ditempuh melalui jalan darat. Jaraknya 30 kilometer dari pusat Kota Kandangan kabupaten Hulu Sungai Selatan,Kalimantan selatan. Anda bisa menggunakan mobil pribadi maupun angkutan pedesaan yang tersedia di Kota Kandangan. Tepat di pertigaan Desa Hulu Banyu, belok kiri setelah melalui sebuah jembatan ulin. Dari pertigaan tersebut hanya sekitar 400 meter, letaknya tepat berada di lembah pegunungan Loksado. Dari pintu masuk, ada jembatan beton penghubung dari jalan ke lokasi wisata. Dari atas jembatan terlihat jelas aliran sungai jeram
yang masih alami dengan pesona kehidupan masyarakat yang masih alami. Selain tempat pemandian air panas, Di Tanuhi ini Anda juga bisa menginap untuk menikmati sejuknya udara di lembah alam Loksado ini pada waktu pagi hari. Di sini tersedia bangunan rumah mini yang disebut
dengan dengan bangunan khas cottage. Ada 10 buah cottage yang tersedia untuk para pengunjung yang hendak menginap atau beristirahat.
GUNUNG KENTAWAN

Gunung Kentawan lebih dikenal sebagai lambang sari kawasan Loksado karena letaknya strategis dan dapat dilihat dari berbagai penjuru. Gunung ini adalah kawasan hutan lindung berupa gunung batu yang ditumbuhi pepohonan disekelilingnya, letak kawasan ini sekitar 28 Km dari kota Kandangan, dan untuk mencapainyahanya jalan kaki lewat Desa Lumpangi, muara Hanip atau Datar Belimbing (Hulu Banyu). Dengan memiliki luas sekitar 245 ha, didalamnya terdapat aneka jenis flora termasuk anggrek Hutan dan fauna yang dilindungi seperti Bekantan, Owa-Owa, Raja Udang
PULAU KEMBANG
Bagi pendatang ke
Banjarmasin rasanya
kurang lengkap kalau tidak mengunjungi Pulau
Kembang di tengah
Sungai Barito
pinggiran Kota, dimana
terdapat sekitar dua ribu
ekor kera jinak. Untuk mencapai pulau
kembang yang merupakan
delta tersebut cukup
gampang cukup naik
klotok sekitar setengah
jam dari kota sudah sampai ke tujuan, disana
pengunjung bisa bercanda
dengan kera jinak atau
kera abu-abu di lokasi
ini.
Pihak pengunjung tak usah takut karena kera
tersebut tidak akan
menyerang pengunjung,
asal pengunjung tidak
menggangunya cukup
dengan memberikan makanan, berupa kacang
tanah, pisang , atau
buah-buahan lainnya. Salah seorang
pengunjung Pulau
Kembang, serta kumpulan
monyet di lokasi tersebut. PULAU KEMBANG Pulau Kembang adalah
sebuah delta seluas 60
Ha yang terletak di
tengah sungai Barito dan
merupakan habitat kera
ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis
burung. Pada tahun 1976,
pulau ini ditetapkan
sebagai hutan wisata
berdasarkan SK.
Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976. Menurut cerita, pulau
Kembang berasal dari
kapal Inggris yang
dihancurkan oleh orang
Biaju pada tahun 1750-
an atas perintah sultan Banjar. Puing-puing
bekas kapal tersebut
lambat laun ditumbuhi
pepohonan dan berubah
menjadi sebuah pulau
yang kemudian didiami sekelompok kera. Orang-
orang desa yang berada
di sekitar pulau baru ini
menganggap bahwa
kera-kera tersebut
merupakan penjelmaan orang halus yang
memakai sarungan kera.
Kelompok kera tersebut
dipimpin oleh seekor kera
yang sangat besar
bernama si Anggur. Munculnya keyakinan
tersebut menjadikan
pulau yang baru muncul
ini dijadikan sebagai
tempat bernazar.
Masyarakat sekitar datang ke pulau ini
dengan membawa sesajen
seperti pisang, telor, nasi
ketan, mayang-pinang,
dan beberapa jenis
kembang. Oleh karena sering digunakan untuk
tempat berhajat dan
menabur kembang, pulau
baru tersebut lebih
dikenal dengan sebutan
Pulau Kembang. Di dalam kawasan hutan
wisata ini terdapat altar
yang diperuntukkan
sebagai tempat
meletakkan sesaji bagi
“penjaga” pulau Kembang yang
dilambangkan dengan dua
buah arca berwujud kera
berwarna putih
(Hanoman).
Keberadaan altar menunjukkan bahwa para
pengunjung yang datang
tidak sekedar berwisata
melihat kera, tetapi juga
datang untuk keperluan
berdoa, khususnya orang- orang Cina. Kera-kera di tempat ini
yang berjumlah ratusan
bahkan ribuan, sangat
akrab (walaupun ada
juga yang ganas) dengan
para pengunjung. Biasanya ketika para
wisatawan datang
berkunjung, kera-kera
tersebut banyak yang
menunggu di dermaga,
menunggu para wisatawan memberi
mereka makanan seperti
pisang, kacang dan
sebagainya. Namun
karena tidak semua
kera-kera di tempat ini bersahabat dengan para
pengunjung, maka ada
baiknya para pengunjung
memperhatikan hal-hal
berikut ini: Siapkan makan-
makanan ringan seperti
kacang kulit, pisang dan
sebagainya untuk
diberikan kepada para
kera. Taruhlah barang
bawaan seperti tas di
tempat yang aman dan
tersembunyi. Barang
bawaan atau tas
terkadang direbut oleh sekelompok kera dan
dibawanya kabur.
Berhati-hati juga
menyimpan barang
bawaan (tas atau
sejenisnya) di dalam perahu klotok, karena
kera-kera tersebut bisa
naik ke klotok dan
mengobrak-abrik barang
bawaan para pengunjung.
Di lokasi wisata ini banyak peminta-minta,
sehingga cukup bijaksana
jika para pengunjung
menyiapkan uang receh.
Para kera mengerubuti
para pengunjung yang baru turun dari klotok
Pulau Kembang
ditempati oleh ratusan
bahkan ribuan monyet dan
beberapa jenis burung.
Bila tengah beruntung, pengunjung bisa bertemu
dengan salah satu spesies
monyet yang menjadi
maskot fauna
Kalimantan Selatan,
yaitu Bekantan (Nasalis larvatus). Kera ini
memiliki sifat pemalu,
berambut cokelat
kemerah-merahan, dan
berhidung panjang. Di
tempat ini, para pengunjung juga bisa
menyaksikan kera-kera
yang bisa berenang.
Selain itu, para
pengunjung dapat
berinteraksi dengan memberikan makanan
berupa kacang dan
merasakan sensasi luar
biasa ketika dikerubuti
kera-kera yang sangat
banyak tersebut. Selain menjadi tempat
ribuan kera, di tempat ini
ternyata juga ada sebuah
kuil yang biasanya
digunakan oleh para
pengunjung untuk meletakkan sesajen atau
melaksanakan
nadzarnya. Pulau ini
sering dihubungkan
dengan kejadian-
kejadian mistis. Banyak para pengunjung yang
mengaku mengalami hal-
hal mistis seperti melihat
jembatan yang
menghubungkan pulau
Kembang dengan daratan; melihat sosok
pangeran berbaju putih
mengendarai kuda
melintas di atas jembatan
itu, dan lain sebagainya. Pulau Kembang terletak
di tengah sungai Barito,
Kecamatan Alalak,
Kabupaten Barito
Kuala, Kalimantan
Selatan. Pulau seluas 60 hektare
ini berjarak sekitar 1,5
km kota Banjarmasin dan
dapat ditempuh dengan
menggunakan perahu
klotok sewaan dengan harga sekitar Rp 200.000 perjamnya atau
bisa lebih murah jika
pengunjung pandai
menawar. Waktu yang
dibutuhkan untuk sampai ke lokasi sekitar 10 menit
dari kota Banjarmasin.
(sumb:wisata melayu)
Jumat, 25 November 2011
BEKANTAN

Bekantan merupakan salah satu jenis
satwa liar yang dilindungi Undang-
undang. Penyebaran satwa ini sangat
terbatas dan untuk kelangsungan
hidupnya memerlukan kondisi tertentu.
Dibawah ini diuraikan secara singkat mengenai apa dan bagaimana satwa
ini, sehingga kita dapat melangkah
untuk menjaga kelestariannya.
Nama-Latin : Nasalis larvatus Nama-Inggris : Proboscis Monkey Status: Dilindungi berdasarkan
Ordonansi Perlindungan
Binatang Liar Tahun 1931 No.
134 dan No. 266 jo UU No. 5
Tahun 1990. Berdasarkan
Red Data Book termasuk dalam kategori genting,
dimana populasi satwa
berada di ambang
kepunahan.
Di Kalimantan , jenis kera ini dikenal
juga dengan nama Kera Belanda, Pika,
Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.
Satwa ini merupakan Maskot Propinsi
Dati I Kalimantan Selatan (SK Gubernur
Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990).
Penyebaran
Bekantan merupakan kera endemik
yang hanya hidup di Kalimantan
Selatan, terutama di pinggiran hutan
dekat sungai, hutan rawa gambut,
hutan rawa air tawar, hutan bakau dan
kadang-kadang sampai jauh masuk daerah pedalaman. Ciri khas Seperti primata lainnya, hampir seluruh
bagian tubuhnya ditutupi oleh rambut (bulu), kepala, leher, punggung dan
bahunya berwarna coklat kekuning-
kuningan sampai coklat kemerah-
merahan, kadang-kadang coklat tua. Dada, perut dan ekor berwarna putih abu-abu dan putih kekuning-kuningan.
Perbedaan antara jantan dan
betina
Jantan : Rambut pipi bagian
belakang berwarna
kemerah-merahan, bentuk
hidung lebih mancung
Betina : Rambut pipi bagian
belakang berwarna
kekuning-kuningan,
bentuk hidung lebih kecil.
Behaviour / Tingkah laku
Masa kehamilan 166 hari atau 5-6 bulan
dan hanya melahirkan 1 (satu) ekor
anak. Setelah berumur 4-5 tahun sudah dianggap dewasa. Bekantan hidup
berkelompok/sub kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor Bekantan jantan yang besar dan kuat.
Biasanya dalam satu kelompok
berjumlah sekitar 10 sampai 20 ekor. Bekantan aktif pada siang hari dan umumnya dimulai pagi hari untuk mencari makanan berupa daun-daunan dari pohon rambai/pedada (Sonneratia alba), ketiau (Genus motleyana), beringin (Ficus sp), lenggadai (Braguiera parviflora), piai (Acrostiolum aureum),
dan lain-laian. Pada siang hari Bekantan menyenangi
tempat yang agak gelap/teduh untuk
beristirahat. Menjelang sore hari,
kembali ke pinggiran sungai untuk
makan dan memilih tempat tidur.
Bekantan pandai berenang menyeberangi sungai dan menyelam di bawah permukaan air.
Kamis, 24 November 2011
KAIN SASIRANGAN


Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat
setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara- upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit
dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut
jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan. Proses Pembuatan Kain Sasirangan Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif- motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/ renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya. Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/ Sepritus, air panas yang mendidih. Mula- mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/ melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan. Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya,
diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit
demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat- kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/ dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi. Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan.

KUE PUTRIE SELAT
Setiap memasuki bulan Ramadhan, bermunculan aneka macam kue khas Banjar di Kalimantan Selatan. Salah satunya adalah kue “Puteri Selat”, kue tradisional yang pada masa kerajaan Banjar menjadi kegemaran kaum bangsawan. Pasar Wadai (pasar kue) di jalan Jenderal Sudirman yang terletak di tepi Sungai Martapura kota Banjarmasin kalimantan Selatan sejak dibuka pada hari pertama bulan puasa hingga kini selalu Ramai pengunjung. Orang Banjar biasanya menjadikan kue tradisional untuk hidangan penutup saat makan. Dipasar Wadai, kue khas Banjar yang jarang dijumpai, akan banyak bermunculan. Seperti kue Kak Kicak, Puteri Selat, Bingka Barandam serta Batatak Sagu. Sebenarnya bukan sekadar adonan resep yang hanya dirasakan lidah semata. Lebih dari itu, makanan khas banjar adalah cita rasa sosial budaya yang penuh makna. Ibu Rukayah Tarmidji adalah salah seorang pembuat kue khas “Puteri Selat” yang cukup dikenal di Banjarmasin. Dirumahnya di jalan Sutoyo kota Banjarmasin, setiap hari, puluhan loyang kue Puteri Selat, diolah. Kesibukannya akan semakin bertambah terutama di bulan Ramadhan. Kue Puteri Selat buatan Rukayah memiliki cita rasa yang beda, yakni manis dan lembut karena menggunakan bahan alami tanpa zat pewarna maupun zat pengawet. Resep yang digunakannya pun merupakan warisan keluarganya sejak puluhan tahun silam. Bahan-bahan untuk membuatnya adalah tepung terigu, santan kelapa muda, kuling terul tambak, gula merah barabai dan daun pandan untuk pewarna hijau. Menurut Rukayah, kue Puteri Selat pertama kali diperkenalkan oleh Puteri Junjung Buih, seorang Raja Puteri dari Kerajaan Negara Dipa yang menikah dengan Pangeran Suryanata dari Majapahit. Untuk menjaga kualitas, ada beberapa adonan dari bahan tertentu yang harus dikerjakan sendiri oleh Rukayah dan tidak boleh dilakukan oleh orang lain. Harga per potong atau satu iris kue Putri Selat dijual 12 Ribu Rupiah. Harga tersebut sesuai dengan rasa yang nikmat. Selain Puteri Selat, kue lainnya buatan Rukayah, diantaranya adalah Sari Muka, Sari Penganten, Hula-Hula, Lapis Ketan, Amparan Tatak dan Kararaban. Bagi warga di Banjarmasin, menunggu saat berbuka puasa tak terasa jika sudah berada di pasar Wadai, karena selain kue dan makanan, perhiasan dan kebutuhan rumah tangga juga banyak dijual di pasar itu.
MUSIK PANTING

A. SEJARAH MUSIK PANTING
Pada awalnya musik panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada
musik panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting adalah A. SARBAINI. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.
B. TOKOH-TOKOH MUSIK PANTING Pada umumnya orang yang memainkan musik panting adalah masyarakat Banjar. Tokoh yang paling terkenal sebagai pemain panting adalah A. SARBAINI. Dan ada juga group-group musik panting yang lain. Tetapi sekarang ini seiring dengan adanya perkembangan zaman group musik panting menjadi semakin sedikit bahkan jarang ditemui.
C. ALAT-ALAT MUSIK PANTING Alat-
alat musik panting terdiri dari :
a.Panting, alat musik yang berbentuk seperti gabus Arab
tetapi lebih kecil dan memiliki senar. Panting dimainkan dengan cara dipetik.
b. Babun, alat musik yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, ditengahnya terdapat lubang, dan di sisi kanan dan kirinya dilapisi dengan kulit yang berasal dari kulit kambing. Babun dimainkan dengan cara dipukul.
c. Gong, biasanya terbuat dari aluminium
berbentuk bulat dan ditengahnya terdapat benjolan berbentuk bulat. Gong dimainkan dengan cara dipukul.
d. Biola, sejenis alat gesek.
e. Suling bambu, dimainkan dengan cara ditiup.
f. Ketipak, bentuknya mirip tarbang tetapi ukurannya lebih kecil, dan kedua sisinya dilapisi dengan kulit.
g. Tamburin, alat musik pukul yang terbuat dari logam tipis dan biasanya masyarakat Banjar menyebut tamburin dengan nama guguncai.
D. CARA PENYAJIAN MUSIK PANTING Menurut cara penyajiannya panting termasuk jenis musik ansambel campuran. Karena terdiri dari berbagai jenis alat musik. Dalam pertunjukan musik panting, biasanya jumlah pantingnya sebanyak 3 buah dan ditambah alat-alat musik lainnya. Musik panting disebut juga dengan nama japin apabila penyajiannnya diiringi dengan tarian. Musik panting disajikan dengan lagu-lagu yang biasanya bersyair pantun. Pantun tersebut berisi nasehat ataupun pantun petuah, dan pantun jenaka. Lagu yang dinyanyikan monotor, yang artinya musik tersebut dinyanyikan tanpa ada reff. Pemain musik panting memainkan musik tersebut dengan cara duduk, para pemain laki-laki duduk dengan bersila, sedangkan pemain perempuan duduk dengan bertelimpuh. Para pemain musik panting pada umumnya mengenakan pakaian Banjar. Yang laki-laki mengenakan peci sebagai tutup kepala sedangkan pemain perempuan menggunakan kerudung. E. FUNGSI MUSIK PANTING
Musik panting mempunyai fungsi sebagai :
1. Sebagai hiburan, karena musiknya dan syair-syairnya yang terkadang jenaka dan dapat menghibur orang banyak. Oleh karena itu, musik panting sering digunakan pada acara perkawinan.
2. Sebagai sarana pendidikan, karena didalam musik panting syainya berisi tentang nasehat-nasehat dan petuah.
3. Sebagai musik yang memiliki nilai- nilai agama, karena musik-musiknya mengandung unsur-unsur agama.
4. Untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama warga masyarakat.
5. Sebagai kesenian musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Langganan:
Postingan (Atom)











