Tampilkan postingan dengan label RUMAH BUBUNGAN TINGGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUMAH BUBUNGAN TINGGI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

filosofi rumah adat banjar

Filosofi Rumah Adat Banjar Pemisahan jenis dan bentuk rumah
Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada
kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu
alam atas dan alam bawah.Rumah
Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni
seakan-akan tinggal di bagian duniatengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah
mereka hidup dalam keluarga besar,
sedang kesatuan dari dunia atas
dan dunia bawah melambangkan
Mahatala dan Jata (suami dan
isteri). rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya
Dunia Atas dan Dunia Bawah Dwitunggal Semesta Pada peradaban agraris, rumah
dianggap keramat karena
dianggap sebagai tempat
bersemayam secara ghaib oleh para
dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk
patung pria dan wanita yang
disembah dan ditempatkan dalam
istana. Pemujaan arwah nenek
moyang yang berwujud pemujaan
Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas
dan alam bawah Kosmogoni
Kaharingan-Hindu. Suryanata
(surya= matahari; nata= raja)
sebagai manifestasi dewa
Matahari dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang
menjadi orientasi karena terbit
dari ufuk timur (orient) selalu
dinantikan kehadirannya sebagai
sumber kehidupan, sedangkan
Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan
tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa . Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja
merupakan citra kekuasaan bahkan
dianggap ungkapan berkat dewata
sebagai pengejawantahan
lambang Kosmos Makro ke dalam
Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang "dunia bawah"
sedangkan Pangeran Suryanata
perlambang "dunia atas". Pada
arsitektur Rumah Bubungan Tinggi
pengaruh unsur-unsur tersebut
masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/ didestilir (bananagaan)
melambangkan "alam bawah"
sedangkan ukiran burung enggang gading melambangkan "alam atas". Pohon Hayat Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi dengan atapnya
yang menjulang ke atas merupakan
citra dasar dari sebuah "pohon
hayat" yang merupakan lambang
kosmis. Pohon Hayat merupakan pencerminan dimensi-dimensi dari
satu kesatuan semesta. Ukiran
tumbuh-tumbuhan yang subur pada Tawing Halat (Seketeng) merupakan perwujudan filosofi
"pohon kehidupan" yang oleh orang Dayak disebut Batang Garing dalam kepercayaan Kaharingan yang pernah dahulu berkembang dalam
kehidupan masyarakat Kalimantan
Selatan pada periode sebelumnya. Payung Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi dengan atapnya
yang menjulang ke atas merupakan
sebuah citra dasar sebuah payung
yang menunjukkan suatu orientasi
kekuasaan ke atas. Payung juga menjadi perlambang
kebangsawanan yang biasa
menggunakan "payung kuning"
sebagai perangkat kerajaan.
Payung kuning sebagai tanda-
tanda kemartabatan kerajaan Banjar diberikan kepada para
pejabat kerajaan di suatu daerah. Simetris Wujud bentuk rumah Banjar
Bubungan Tinggi yang simetris,
terlihat pada bentuk sayap
bangunan atau anjung yang terdiri
atas Anjung Kanan dan Anjung
Kiwa. Hal ini berkaitan dengan filosofi simetris (seimbang)
dalam pemerintahan Kerajaan
Banjar, raja sebagai kepala negara
dibantu oleh mangkubumi sebagai
kepala pemerintahan, sedangkan
mangkubumi dibantu oleh dua orang asisten yaitu Mantri Panganan
(Asisten Kanan) dan Mantri
Pangiwa (Asisten Kiri) yang
membawahi 4 orang menteri
(Mantri Ampat= menteri
berempat) yang bergelar Patih dan 4 menteri lainnya yang bergelar
Sang, sehingga terdapat 8 menteri
utama (menteri berdelapan),
dimana tiap-tiang menteri
tersebut memiliki pasukan masing-
masing. Konsep simetris ini tercermin pada rumah bubungan
tinggi. Kepala-Badan-Kaki Bentuk rumah Bubungan Tinggi
diibaratkan tubuh manusia terbagi
menjadi 3 bagian secara vertikal
yaitu kepala, badan dan kaki.
Sedangkan anjung diibaratkan
sebagai tangan kanan dan tangan kiri yaitu anjung kanan dan anjung
kiwa (kiri). Tata Nilai Ruang Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi
(istana) terdapat ruang Semi
Publik yaitu Serambi atau surambi
yang berjenjang letaknya secara
kronologis terdiri dari surambi
muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan
sebelum memasuki pintu utama
(Lawang Hadapan) pada dinding
depan (Tawing Hadapan ) yang
diukir dengan indah. Setelah
memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private.
Pengunjung kembali menapaki
lantai yang berjenjang terdiri dari
Panampik Kacil di bawah,
Panampik Tangah di tengah dan
Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau "dinding
tengah" yang menunjukkan adanya
tata nilai ruang yang hierarkis.
Ruang Panampik Kecil tempat bagi
anak-anak, ruang Panampik
Tangah sebagai tempat orang- orang biasa atau para pemuda dan
yang paling utama adalah ruang
Panampik Basar yang
diperuntukkan untuk tokoh-tokoh
masyarakat, hanya orang yang
berpengetahuan luas dan terpandang saja yang berani duduk
di area tersebut. Hal ini
menunjukkan adanya suatu
tatakrama sekaligus
mencerminkan adanya pelapisan
sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas
adalah golongan berdarah biru
disebut Tutus Raja (bangsawan)
dan lapisan bawah adalah golongan
Jaba (rakyat) serta di antara
keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan
jabatan-jabatan dalam Kerajaan
beserta kaum hartawan. Tawing Halat/Seketeng Ruang dalam rumah Banjar
Bubungan Tinggi terbagi menjadi
ruang yang bersifat private dan
semi private. Di antara ruang Panampik Basar yang bersifat semi private dengan ruang Palidangan yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya "dinding pemisah", kalau di daerah Jawa disebut Seketeng. Jika ada selamatan maupun menyampir
(nanggap) Wayang Kulit Banjar maka pada Tawing Halat ini bagian
tengahnya dapat dibuka sehingga
seolah-olah suatu garis pemisah
transparan antara dua dunia (luar
dan dalam) menjadi terbuka.
Ketika dilaksanakan "wayang sampir" maka Tawing Halat yang
menjadi pembatas antara
"dalam" (Palidangan) dan luar
(Paluaran/Panampik Basar)
menjadi terbuka. Raja dan
keluarganya serta dalang berada pada area "dalam" menyaksikan
anak wayang dalam wujud aslinya
sedangkan para penonton berada
di area "luar" menyaksikan wayang
dalam bentuk bayang-bayang. Denah Cacak Burung Denah Rumah Banjar Bubungan
Tinggi berbentuk "tanda tambah"
yang merupakan perpotongan dari
poros-poros bangunan yaitu dari
arah muka ke belakang dan dari
arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral. Di tengah- tengahnya tepat berada di bawah
konstruksi rangka Sangga Ribut di
bawah atap Bubungan Tinggiadalah Ruang Palidangan yang merupakan
titik perpotongan poros-poros
tersebut. Secara kosmologis maka
disinilah bagian paling utama dari
Rumah Banjar Bubungan Tinggi.
Begitu pentingnya bagian ini cukup diwakili dengan penampilan
Tawing Halat (dinding tengah)
yang penuh ukiran-ukiran (Pohon
Hayat) yang subur makmur. Tawing
Halat menjadi fokus perhatian dan
menjadi area yang terhormat. Tawang Halat melindungi area
"dalam" yang merupakan titik
pusat bangunan yaitu ruang
Palidangan (Panampik Panangah). Referensi 1. ^(Indonesia) Mohamad Idwar Saleh, Rumah tradisional Banjar, rumah
bubungan tinggi, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Proyek Pengembangan
Permuseuman Kalimantan Selatan, 1980

Pengaruh Sistem Religi dan Sistem Pengetahuan

Meskipun orang Banjar sudah
memeluk Islam , namun dalam kegiatan sehari-hari yang
sehubungan dengan kebudayaan
masih melekat unsur aninisme, Hindu - Buddhayang berkembang sebagai dasar adat pada masa lalu.
Akan tetapi hal itu tidak secara
keseluruhan. Religi yang dianggap
asal adalah dari Kaharingan yang dikembangkan oleh orang Dayak.
Pengaruh Hindu, Buddha, Islam
maupunKristen tidak berarti kepercayaan nenek moyang dengan
segala upacara religinya hilang
begitu saja. Orang-orang Dayak
yang telah memeluk Islam dianggap
sebagai Suku Bangsa Banjar dan
tidak lagi menganggap dirinya sebagai suku Dayak. Suku Banjar
hampir semua sendi keagamaanya
didasarkan pada sentimen
keagamaan yang bersumber pada
ajaran Islam. Jadi setiap setiap
rumah tangga memiliki peralatan yang berhubungan dengan
pelaksanaan keagamaan. Demikian
pula pada rumah tradisional Banjar
banyak dilengkapi dengan ukiran
yang berkaitan dengan
persaudaraan, persatuan, kesuburan, maupun khat-khat
kaligrafi Arab yang bersumber dari
ajaran Islam seperti dua kalimat syahadat , nama-nama Khalifah , Shalawat , atau ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur'an . Namun ukiran-ukiran di rumah
Banjar juga masih ada yang
berhubungan dengan kepercayaan
Kaharingan, Aninisme, Dinanisme,
maupun Hindu-Buddha, misalnya swastika ,enggang ,naga dan sebagainya Cara Menentukan Ukuran Rumah
Adat Banjar Cara Menentukan Ukuran Rumah
Adat Banjar dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain : 1. Panjang dan lebar rumah
ditentukan ukuran depa suami
dalam jumlah ganjil. (Depdikbud,
Brotomoeljono, Rumah
Tradisional Kalimantan Selatan,
1986 : 87) 2. Dihitung dengan mengambil
gelagar pilihan, kemudian
dihitungkan dengan perhitungan
gelagar, geligir, gelugur. Bila
hitungannya berakhir dengan
geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga
harus ditutup dengan gelagar.
Hitungan gelagar akan
menyebabkan rumah dan
penghuninya mendapatkan
kedamaian dan keharmonisan. (Depdikbud, Brotomoeljono,
Rumah Tradisional Kalimantan
Selatan, 1986 : 87) 3. Cara lain menurut Alfani Daud, MA.
(1997 : 462); Ukuran panjang dan
lebar rumah dilambangkan
delapan ukuran lambang binatang
yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak.
Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah .Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing , keledai , atau gagak . (Jumlah) panjang depa seseorang yang
membangun rumah dibagi
delapan mewakili binatang
berturut-turut seperti tersebut
terdahulu. (Tiap depa dikalikan
12). Bila panjang rumah 6depa, berarti 6 x 12ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya
dilambangkan oleh binatang
naga, haruslah ditambah 1/12
depa lagi. Untuk memperoleh
ukuran lambang gajah, panjang
itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa. (Alfani Daud,
MA, Islam dan Masyarakat
Banjar, 1997 : 462)

Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar

Pondasi, Tiang dan Tongkat Keadaan alam yang berawa-rawa
di tepi sungai sebagai tempat awal
tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan
dengan lantai yang tinggi. Pondasi,
tiang dan tongkat dalam hal ini
sangat berperan. Pondasi sebagai
konstruksi paling dasar, biasanya
menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan
tongkat menggunakan kayu ulin , dengan jumlah mencapai 60batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat. Kerangka Kerangka rumah ini biasanya
menggunakan ukuran tradisional
depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilaimagis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah : 1. susuk dibuat dari kayu Ulin. 2. Gelagar dibuat dari kayu Ulin,
Belangiran, Damar Putih. 3. Lantai dari papan Ulin setebal 3
cm. 4. Watun Barasuk dari balokan Ulin. 5. Turus Tawing dari kayu Damar. 6. Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin. 7. Balabad dari balokan kayu Damar
Putih. Mbr> 8. Titian Tikus dari balokan kayu
Damar Putih. 9. Bujuran Sampiran dan Gorden
dari balokan Ulin atau Damar
Putih. 0. Tiang Orong Orong dan Sangga
Ributnya serta Tulang Bubungan
dari balokan kayu Ulin, kayu
Lanan, dan Damar Putih. 1. Kasaudari balokan Ulin atau Damar Putih. 2. Riing dari bilah-bilah kayu Damar
putih. Lantai Di samping lantai biasa, terdapat
pula lantai yang disebut dengan
Lantai Jarang atau Lantai
Ranggang. Lantai Ranggang ini
biasanya terdapat di Surambi Muka,
Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan
atau pambanyuan. Sedangkan yang
di Anjung Jurai untuk tempat
melahirkan dan memandikan jenazah . Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah
papan ulin selebar 20cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin
selebar 10 cm. Dinding Dindingnya terdiri dari papan yang
dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga
diperlukan Turus Tawing dan
Balabad untuk menempelkannya.
Bahannya dari papan Ulin sebagai
dinding muka. Pada bagian
samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan
kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian
Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Juraidan Ruang Padu, kadang-kadang dindingnya
menggunakan Palupuh. Atap Atap bangunan biasanya menjadi
ciri yang paling menonjol dari suatu
bangunan. Karena itu bangunan ini
disebut Rumah Bubungan Tinggi.
Bahan atapnya terbuat dari sirap
dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia. Ornamentasi (Ukiran) Penampilan rumah tradisional
Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh
bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada
bagian yang konstruktif seperti
tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang
berkembang dibawah pengaruh
Islam, motif yang digambarkan
adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang
seperti pada ujung pilis yang
menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif
floral. Di samping itu juga terdapat
ukiran bentuk kaligrafi . Kaligrafi Arab merupakan ragam hias yang
muncul belakangan yang
memperkaya ragam hias suku
Banjar. (Museum Lambung Mangkurat -Banjarbaru , "Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan
Kelengkapannya", 1992/1993)

sejarah dan perkembangan rumah adat banjar


Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggikarena bentuk pada bagian atapnya yang
begitu lancip dengan sudut45ยบ. BangunanRumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di
bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam
Sultan Suriansyah tersebut
menganut agama Hindu . Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun perkembangannya
kemudian bentuk segi empat
panjang tersebut mendapat
tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah
ruangan yang berukuran sama
panjang. Penambahan ini dalam
bahasa Banjar disebut disumbi. Bangunan tambahan di samping
kiri dan kanan ini tamapak
menempel (dalam bahasa Banjar:
Pisang Sasikat) dan menganjung
keluar. Bangunan tambahan di kiri dan
kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih
populer dengan nama Rumah Ba-anjung . Sekitar tahun 1850bangunan- bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk
bangunan lain. Namun Rumah Ba-anjung adalah
bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan. Bangunan-bangunan lain yang
menyertai bangunan rumah ba-
anjung tersebut ialah yang disebut
dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan
kesultanan berupa emas dan perak . Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang
pengasuh, Gajah Manyusutempat tinggal keluarga terdekat
kesultanan yaitu para Gusti-Gusti
dan Anang. Selain bangunan-bangunan tersebut
masih dijumpai lagi bangunan-
bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku,Palembangan , dan Balai Seba. Pada perkembangan selanjutnya,
semakin banyak bangunan-
bangunan perumahan yang
didirikan baik di sekitar kesultanan
maupun di daerah-daerah lainnya
yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung. Sehingga pada akhirnya bentuk
rumah ba-anjung bukan lagi hanya
merupakan bentuk bangunan yang
merupakan ciri khas kesultanan
(keraton), tetapi telah menjadi
ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.Kemudian bentuk bangunan rumah
ba-anjung ini tidak saja menyebar
di daerah Kalimantan Selatan,
tetapi juga menyebar sampai-
sampai ke daerah Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur. Sekalipun bentuk rumah-rumah yang
ditemui di daerah Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur
memiliki ukuran yang sedikit
berbeda dengan rumah Ba-anjung
di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri
khas bangunan rumah adat Banjar
tetap kelihatan. DiKalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat
dijumpai di daerah Kotawaringin Barat , yaitu diPangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai. Menyebarnya bentuk rumah adat
Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan
Banjar ketika diperintah oleh Sultan
Musta’inbillah. Sultan Musta’inbillah memerintah
sejak tahun 1650sampai 1672 , kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah . Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah
Kerajaan Banjar tersebut
diperintah oleh Pangeran Dipati
Anta Kesuma sebagai sultannya
yang pertama. Menyebarnya bentuk rumah adat
Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar
yang merantau ke daerah ini, yang
kemudian mendirikan tempat
tinggalnya dengan bentuk
bangunan rumah ba-anjung
sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka. Demikianlah pada akhirnya
bangunan rumah adat Banjar atau
rumah adat ba-anjung ini
menyebar kemana-mana, tidak
saja di daerah Kalimantan Selatan , tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.Akan tetapi sekarang dapat
dikatakan bahwa rumah ba-anjung
atau rumah Bubungan Tinggi yang
merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi. Sejak tahun 1930 -an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi
membangun rumah tempat tinggal
mereka dengan bentuk rumah ba-
anjung. Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang
membuat para penduduk tidak mau
membangun lagi rumah-rumah
mereka dengan bentuk rumah ba-
anjung. Banyak rumah ba-anjung yang
dibangun pada tahun-tahun
sebelumnya sekarang dirombak
dan diganti dengan bangunan-
bangunan bercorak modern sesuai selera zaman. Tidak jarang dijumpai di
Kalimantan Selatan si pemilik
rumah ba-anjung justru tinggal di
rumah baru yang (didirikan
kemudian) bentuknya sudah
mengikuti mode sekarang. Apabila sekarang ini di daerah
Kalimantan Selatan ada rumah-
rumah penduduk yang memiliki
gaya rumah adat ba-anjung, maka
dapatlah dipastikan bangunan
tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930. Untuk daerah Kalimantan Selatan
masih dapat dijumpai beberapa
rumah adat Banjar yang sudah
sangat tua umurnya seperti di Desa
Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut
di Melayu, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin , Desa Teluk Selong Ulu, Maratapura, Banjar, Desa Dalam
Pagar), Desa Tibung, Desa Gambah
(Kandangan ), Desa Birayang (Barabai ), dan di Negara . Masing-masing rumah adat
tersebut sudah dalam kondisi yang
amat memprihatinkan, banyak
bagian-bagian rumah tersebut
yang sudah rusak sama sekali. Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan- bangunan tersebut. Namun tidak
jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut
karena alasan-alasan tertentu ,
seperti malu atau gengsi. Karena
merasa dianggap tidak mampu
merawat rumahnya sendiri. Bagaimanapun keadaan rumah-
rumah tersebut, dari sisa-sisa yang
masih bisa dijumpai dapat
dibayangkan bagaimana
artistiknya bangunan tersebut
yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.

Jumat, 21 Oktober 2011

rumah banjar bubungan tinggi


Rumah Banjar atau Rumah ba-anjung adalah rumah tradisional suku Banjar . Arsitektur tradisional ciri-cirinya
antara lain memiliki perlambang,
memiliki penekanan pada atap,
ornamental, dekoratif dan
simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah
type-type rumah khas Banjar
dengan gaya dan ukirannya sendiri
mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Pada tahun 1871 pemerintah kota Banjarmasin
mengeluarkan segel izin pembuatan
Rumah Bubungan Tinggi di kampung
Sungai Jingah yang merupakan
rumah tertua yang pernah dikeluarkan segelnya. [1]Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun
dengan ber-anjung (ba-anjung)
yaitu sayap bangunan yang
menjorok dari samping kanan dan
kiri bangunan utama karena itu
disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah
tradisional Banjar, walaupun ada
pula beberapa type Rumah Banjar
yang tidak ber- anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah
Rumah Bubungan Tinggi yang
biasanya dipakai untuk bangunan
keraton (Dalam Sultan). Jadi
nilainya sama dengan rumah joglo
di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang
penguasa pada masa pemerintahan
kerajaan diukur oleh kuantitas
ukuran dan kualitas seni serta
kemegahan bangunan-bangunan
kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi). Dalam
suatu perkampungan suku Banjar
terdiri dari bermacam-macam
jenis rumah Banjar yang
mencerminkan status sosial
maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung
tersebut rumah dibangun dengan
pola linier mengikuti arah aliran
sungai maupun jalan raya terdiri
dari rumah yang dibangun
mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun
rumah yang didirikan di daratan,
baik pada lahan basah (alluvial)
maupun lahan kering. Jenis-jenis Rumah Adat Banjar Rumah Bubungan Tinggi Rumah Gajah Baliku Rumah Gajah Manyusu Rumah Balai Laki Rumah Balai Bini Rumah Palimbangan Rumah Palimasan (Rumah Gajah Rumah Cacak Burung/Rumah Anjung Surung Rumah Tadah Alas Rumah Lanting Rumah Joglo Gudang Rumah Bangun Gudang